Si Keris Combong Kiai Wetu Digmaseno dari Pasar Ikan

1182

2“Komunikasi” dengan Danyang Penjaga

Sebetulnya tidak ada persiapan khusus untuk komunikasi ini, tetapi agar si “Penjaga” senang, kami bakar kemenyan madu agar bau harumnya bisa menyebar.

Angin malam dimusim hujan yang kencang, bersuing-suing ditelinga kami, membuat bau hasil bakaran kemenyan tersebut sama sekali tidak berbekas.

Akhirnya kami mencari lokasi di dekat bangunan yang bisa menghalangi angin.

Tiba-tiba kami dihampiri security disitu. Setelah menjelaskan panjang lebar, akhirnya dia menemani dilokasi tempat kami melakukan ritual untuk komunikasi ini.

Kemenyang kembali dibakar, dan kali ini bau harumnya cukup kuat menyengat hidung kami.

Sayapun meningkatkan kepekaan. Bathin dan raga menyatu dengan alam sekitar.

Ketika suasana tiba-tiba hening, tidak terdengar apapun, dimulailah “komunikasi” dengan Danyang Penjaga disini.

Suara lirih terdengar dalam bathin saya, menjawab salam yang saya berikan.

Dengan sopan saya bertanya mengenai pusaka yang kemarin dijanjikan untuk diberikan kepada kami.

Setelah melalui percakapan singkat, akhirnya kami sediakan bahan yang diminta tersebut.

Setelah bahan-bahan diberikan, kemudian terdengar suara trkkkkk.

Otomatis kami mencari asal suara tersebut.

Kegelapan malam, hanya disinari lampu seadanya disekitar situ, ditambah hujan rintik-rintik halus yang mulai turun membuat mata kami sangat terbatas untuk melihat.

Security bilang, “Rasanya suaranya dari atap genting situ pak.”

Otomatis kami pun melihat kearah yang ditunjuk.

Tapi gelapnya malam, tidak menghasilkan penglihatan apapun.

SHARE

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY