Istriku Kena Pelet (Bagian 2)

1452

Bagian pertama bisa dilihat disini.

Perselingkuhan diluar Kesadaran
Berikut pengakuan Istri saya.

(Cerita Istri)
Sewaktu acara reuni SMA, ada seorang sahabat satu kelas saya, katakanlah bernama Deni menghampiri saya dan mengajak bercakap-cakap. Tentunya sebagai teman saya layani dengan ramah. Tapi yang membuat saya agak canggung bicaranya kemudian nyerempet-nyerempet ke pembicaraan mesum. Padahal Deni ini sudah beristri dan ada 2 orang anak. Bahkan istri dan anaknya juga diajak ke acara reuni tersebut.

Kemudian saya ke toilet karena ingin buang air kecil. Yang buat saya kaget sewaktu saya keluar dari bilik kamar mandi, Deni ada dalam ruang toilet wanita dan berusaha memeluk dan mencium saya. Kemudian reflek saya tampar.

Sambil pegang pipinya dia bilang sambil mengancam, “Awas kamu akan bersimpuh minta-minta saya ‘gituin’, tunggu aja..”

Karena takut suami berprasangka buruk, kejadian tersebut tidak saya ceritakan kepada suami. Biar saja toh saya tidak berbuat apa-apa.

Tapi 3 hari sepulang dari acara reuni, saya selalu terbayang-bayang wajah Deni. Dan tiap kali membayangkan Deni selalu menimbulkan gairah tersendiri yang saya lampiaskan kepada suami.

Deni juga mulai berani telpon ke rumah. Kalau kebetulan saya yang angkat, kata-kata cabul keluar dari mulutnya. Saya hanya mendengarkan saja tidak berkata apa-apa. Kalau ditanya suami saya selalu bilang urusan kerjaan. Sampai akhirnya saya menjadi risih sendiri dan mulai tidak menanggapi dia. Tapi kemudian mulai ada teror telpon ditengah malam, kalau diangkat tidak ada suara. Keyakinan saya tentunya Deni ini pelakunya. Tetapi dikarenakan takut suami berprasangka buruk kepada saya, akhirnya saya juga pura-pura tidak tahu siapa pelakunya.

Untuk menghentikan teror dari Deni akhirnya saya minta agar dia menemui saya di kantor.

Pertemuan di kantor saya dengan Deni biasa saja. Tetapi saya tanyakan apa maksudnya dan kenapa? Kita sama-sama sudah berkeluarga, juga saya jelaskan sikap seperti itu sangat kekanakan dan melukai saya sebagai teman. Dan dia hanya senyum-senyum saja.

Sejak hari itu teror telepon berhenti. Tapi…

Deni mulai sering mendatangi kantor saya, dan saya berusaha sebisanya untuk menghindar, bahkan saya minta suami untuk menjemput. Bahkan bertemu dengan suamipun dia biasa saja, katanya ada urusan. Kebetulan memang tempat kerja saya adalah BUMD. Betul-betul membuat saya pusing dan akhirnya menjadi timbul gelisah dan perasaan tidak nyaman.

Hingga akhirnya pada suatu ketika Deni bertemu dengan saya disalah satu restoran sehabis lobby pejabat daerah.

Tangannya memegang pundak saya, sambil berkata yang terakhir saya ingat, “Min.. apa kabar?”

Berada Dalam Pengaruh Gaib
Sejak itu dunia saya berubah total. Saya seperti tidak ingat apa-apa lagi. Semua seperti samar-samar. Badan saya bergerak tanpa bisa saya kendalikan. Saya menurut dibawa kemana saja dan diperlakukan apa saja.

Otak saya kosong, tidak mampu berfikir, saya hanya mengerjakan rutinitas dan kemudian Deni datang untuk kemudian saya berada dalam cengkeraman dia sepenuhnya.

Tabungan saya dikosongkan. Tanah, ruko investasi yang saya kumpulkan bertahun-tahun saya serahkan begitu saja. Saya betul-betul seperti kerbau dicucuk hidungnya. Menurut tanpa ada perlawanan sama sekali. Dan segala gerak tubuh saya tidak bisa saya kendalikan. Sudah seperti robot yang sepenuhnya dikendalikan oleh Deni

Kebencian yang mengembalikan Kesadaran
Hati saya begitu benci kepada manusia bernama Deni ini. Kemarahan dalam diri saya walau tidak terlihat dan nampak dari gerak tubuh saya, tapi bertengger dalam hati dan makin kuat berada disana. Seakan api yang membara makin besar dan makin besar hingga akhirnya membakar seluruh rumah. Akhirnya raga saya tidak mampu menampung kemarahan hati saya.

Pada akhirnya saya pingsan. Dan saya sadar sudah berada dalam rumah sakit. Sejak itu saya mulai bisa mengontrol kembali diri saya. Kesadaran saya mulai bangkit. Tetapi begitu juga kenangan saya dengan Deni ini.

Sebisa saya berusaha menghentikan segala transaksi dan perjanjian notaris yang akhirnya membuat Deni datang kerumah sakit ketika itu dan mengancam saya akan membunuh saya lewat cara halus kalau masih melawan.

Hati saya betul-betul hancur. Saya selalu berfikir apa salah saya Tuhan? Kenapa kejadian ini menimpa saya?

Seiring dengan kembalinya kesadaran saya, ingatan saya juga kembali. Dan kejadian-kejadian dengan Deni membuat saya sangat terpukul dan menghancurkan diri saya. Walhasil kesehatan saya makin menurun. Membayangkan apa yang sudah saya buat malah makin membuat saya merasa bersalah. Dan rasa bersalah itu makin hari makin kuat yang akhirnya menghancurkan raga saya.

Teror Gaib
Kemudian pada malam itu, saya temui penampakan aneh, seperti makhluk yang tidak bisa saya deskripsikan keluar dari tembok dan menghampiri saya untuk berusaha mencekik saya. Saya kalap berteriak, tapi suara saya kelu. Hanya ketakutan yang datang tanpa saya berdaya. Tiba-tiba saya merasa seperti berlari entah dimana karena dikejar-kejar makhluk tersebut.

Dunia seperti tidak berujung. Yang ada hanya padang pasir tiada tepi. Dimana saya berlari dan terus berlari.

Mulai terasa fisik saya melemah. Dan akhirnya saya berhenti berlari untuk pasrah saja.

Ketika saya berhenti dan terduduk diam. Makhluk itu hilang entah kemana. Menyisakan saya yang bingung berada dimana.

Dituntun Pulang
Akhirnya saya berjalan tidak tentu arah, tidak tahu sudah berapa lama dan berapa jauh.

Sampai akhirnya saya bertemu seorang lelaki paruh baya, pakai kaos putih dan sarungan. Wajahnya menurut saya tampan seperti indo keturunan. Tapi raut wajahnya seperti murung melihat saya.

Dia berkata, “Bu, pulang aja. Arahnya kesana.” Sambil menunjuk suatu arah.

Saya bingung, tiba-tiba diarah yang ditunjuk sudah seperti kota tempat tinggal saya yang ada keramaian kendaraan lalu lalang. Saya seperti berada dipinggir jalan raya simpang lima.

Kebingungan saya seperti terlihat oleh pria ini. Kemudian akhirnya dia bilang, “Mari bu..” Tangan saya dituntun. Dan ketika tangan saya disentuh timbul perasaan aman, nyaman dan rasa percaya diri saya kembali.

Kemudian saya seperti jatuh kebawah dalam sekali.

Berakhirnya Teror Gaib
Ketika saya tersadar dan membuka mata, ada suami saya tercinta sedang memegang tangan saya. Seketika kesadaran saya pulih. Dan kembali timbul perasaan bersalah terhadap suami. Segera saya minta maaf kepada suami. Dan suami mengangguk-angguk yang membuat saya makin terharu.

Ketika kesadaran saya makin pulih, saya bertanya yang mengantar saya kesini mana? Pria ganteng, tanya saya.

Suami hanya seperti kebingungan tapi dia kemudian senyum bilang ke saya, “Udah pulang tadi..”

Akhirnya saya bisa tertidur dengan nyenyak setelah sekian lama.

Bersambung Bagian Ke 3 disini.

SHARE

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY