Babad Tanah Jawi Jawa Bagian II

846
Babad Tanah Jawi
Buku Babad Tanah Jawi

Prabu Watu-Gunung dari Negeri Giling-Wesi

Kisah dari negeri Giling-Wesi, rajanya bergelar Watu-Gunung. Permaisurinya dua orang. Pertama, bernama Dewi Sinta dan yang keduanya Dewi Landep. Putranya dua puluh tujuh orang. Semuanya laki-laki, yaitu Wukir, Kurantil, Tolu, Gumbreg, Warigalit, Wariagung, Julung-Wangi, Sungsang, Galungan, Kuningan, Langkir, Manda-Siya, Julung-Pujut, Pahang, Kuru-Welut, Marakeh, Tambir, Mandangkungan, Maktal, Puye, Menahil, Prang-Bakat, Baal, Wugu, Wayang, Kulawu, Dukut. Semua keturunan dari Dewi Sinta.Pada waktu itu negeri Giling-Wesi terjadi huru-hara besar. Banyak rakyat kecil yang menderita, makanan sukar didapat, sering terjadi gerhana matahari maupun gerhana bulan, hujan salah musim, gempa tujuh kali sehari. Itu sebagai isyarat Negeri Giling-Wesi akan rusak.

Prabu Watu-Gunung sangat sedih menyaksikan penderitaan rakyatnya itu. Suatu hari sang Raja sedang tiduran di tempat peraduan yang terbuat dari gading. Istrinya, yang bernama Dewi Sinta sangat terkejut ketika melihat Raja cacat botak di kepalanya, lalu bertanya apa yang menjadi sebab-musibabnya. Sang Prabu memberi tahu ketika masih anak-anak, ketika ibunya sedang menanak nasi, beliau rewel lalu dipukul dengan entong sampai berdarah. Lalu pergilah beliau tanpa arah dan tujuan.

Betapa terkejutnya Dewi Sinta, sampai tak dapat bicara mendekar pengakuan sang Prabu. Teringatlah akan putranya yang tak pernah kunjung pulang, karena dipukul dengan entong, persis seperti yang diceritakan sang Raja. Sangat sedih hatinya, sebab dirinya ternyata telah dipersunting oleh putranya sendiri. Sang putri merenung mencari jalan agar dapat lepas daring sang Raja yang tak lain dan tak bukan adalah anak kandungnya sendiri.
Karena lama terdiam saja, bertanyalah raja mengapa demikian lakunya. Dewi Sinta menjawab sebenarnya ia sedang berpikir. Bahwa Raja akan lebih sempurna keluhuranya jika ia mempunyai permaisuri bidadari dari Sura-Laya. Dewi Sinta berkeyakinan jika sampai berani melamar kesana pasti akan terjadi perang, sang Raja pasti akan menemui ajalnya. Inilah jalan untuk dapat lepas dari suaminya.

Setelah diberitahu demikian Prabu Watu-Gunung lalu berniat masuk Sura-Laya, melamar bidadari. Ia segera menjauhkan perintah kepada para punggawa serta kepada putranya yang berjumlah dua puluh tujuh tadi, memberangkatkan prajuritnya ke Sura-Laya.

Setelah Batara Guru mendengar raja di Giling-Wesi akan naik ke Sura-Laya, maka dipanggilah para dewa. Semua ditanya mau atau tidak menghadapi prabu Watu-Gunung. Semua menjawab takut. Lalu Sanghyang Narada memberi saran kepada Batara Guru, agar memanggil putranya Batara Wisnu. Bila mampu mengalahkan raja Giling-Wesi, akan diampuni dosa-dosanya. Sebab selain Batara Wisnu rasa-rasanya tidak ada yang mampu melawan Prabu Watu-Gunung.

Batara Guru mengiyakan, Sanghyang Narada lalu turun dari Sura-Laya, akan mencari Batara Wisnu.

Sanghyang Narada dapat menemukan Batara Wisnu yang sedang bertapa dibawah tujuh pohon beringin. Ia lalu menyampaikan peritah Batara Guru, seperti yang tadi.

Batara Wisnu bersedia mengalahkan Raja Giling-Wesi, tetapi memohon izin untuk pulang terlebih dahulu, akan berpamitan dengan istrinya. Sanghyang Narada dimohon menunggu dibawah pohon beringin tujuh tadi.

Batara Wisnu lalu berangkat, untuk menemui istrinya. Ketika ditinggal pergi dulu, istrinya sedang mengandung. Batara Wisnu berpesan, bila lahir seorang putra, deberi nama Srigati. Setelah yang lahir laki-laki lalu diberi nama sesuai dengan pesan suaminya. Setelah dewasa tampan rupanya.

Kemudian Batara Wisnu datang bertemu dengan permaisuri dan putranya. Permaisuri diberitahu, bahwa dirinya dipanggil oleh Batara Guru naik ke Sura-Layu, diperintahkan untuk menghadapi raja Giling-Wesi. Putranya ingin ikut. Tetapi Batara Wisnu melarang. Setelah berpamitan dengan permaisurinya, ia lalu berangkat. Kemudian bertemu dengan Sanghyang Narada dibawah pohon beringin tujuh.

Raden Srigati yang ditinggalnya tadi mengejar kepergian ayahnya. Sampai di phon beringin tujuh duduklah ia dibelakangnya. Sanghyang Narada, setelah tahu bahwa itu adalah putra Batara Wisnu dan ikut ke Sura-Laya, memberi nasihat kepada Batara Wisnu, jangan membawa putranya. Itu mungkin dapat membangkitkan amarah Batara Guru.

Putranya lalu diperintahkanya untuk pulang. Sanghyang Narada dengan Batara Wisnu segera berangkat ke Sura-Laya. Raden Srigai ditinggal di bawah pohon beringin tujuh.

Perjalan Sanghyang Narada bersama Batara Wisnu akhirnya sampai di Sura-Laya. Mereka bersama-sama menghadap Batara Guru. Baru asyik berbicara, tidak lama kemudian Raden Srigati yang ditinggal tadi, menyusul perjalan ayahnya. Batara Guru setelah melihat ada seorang pemuda tampan wajahnya, duduk dibelakang Batara Wisnu, bertanya kepada Sanghyang Narada siapakah pemuda tersebut.

Narada memberi tahu, bahwa itu putranya Batara Wisnu, keturunan nya dengan putri dari Mendang. Batara Guru setelah melihat laporan demikian, sangatlah murka. Ia kemudian berdiri dari tempat duduknya, masuk kedalam. Narada mengikutinya, tahu bahwa Batara Guru marah.

Batara Guru lalu memperitahkan kepada Sanghyang Narada, supaya mengambil putranya Batara Wisnu akan dibunuh, untuk tumbal disurga. Sedang Batara Wisnu diperintahkan untuk segera menghadapi musuh.

Setelah Batara Wisnu mendapat perintah demikian, ia memberi jawaban, jika putranya akan dibunuh, dia tidak mau mengjadapi musuh. Sanghyang Narada lalu segera memberi tahu jawaban Batara Wisnu. Tidak lama kemudaian diluar gempar seru-seruan, “Musuh datang!” Batara Guru sangat takut serta gemetar memohon petunjuk Sanghyang Narada.

Jawaban Sanghyang Narada jika tidak dibatalkan niatnya untuk membunuh Srigati dan Batara Wisnu tidak mau berperang, tak urung rusaklah Sura-Laya. Batara Guru menurut saran Sanghyang Narada, tidak jadi niatnya untuk membunuh Srigati. Lalu Batara Wisnu diperintah untuk menghadapi musuh.

Batara Wisnu beserta putranya lalu keluar dari bangsal kedewataan, menghadapi raja Giling-Wesi, Dan kemudia bertemu dan saling berhadap-hadapan dengan raja Giling-Wesi. Sang Raja menawarkan kepada Batara Wisnu, tidak usah berperang. Jika dapat menerima “cangkriman”-nya (teka-teki) sang Raja mengalah sukarela untuk dibunuh. Tetapi jika tidak dapat menebak cangkriman-nya semua dewa di Sura-Laya harus takluk menyerah. Menyerahkan semua bidadari, untuk dijadikan istrinya.

Batara Wisnu menyutujui penawaran tadi. Sang Raja lalu mebeberkan cangkriman-nya, “Ada pohon adikih, adakah buahnya. Ada pohon adakah, adikih buahnya?”

Cangkriiman itu dijawab oleh Batara Wisnu, “Pohon adikih, adakah buahnya, itu semangka. Pohon adakah, adikih buanya, itu beringin.”

Sang Raja tidak bisa bicara, sudah tertebak cangkiriman-nya. Ia lalu diserang dengan senjata cakar oleh Batara Wisnu hingga putus lehernya. Semua bala- tentaranya ketakutan, bubar, kembali pulang semuanya.

Setelah meninggalnya Prabu Watu-Giling, Dewi Sinta sangat sedih dan menangis. Tangisanya mendatangkan gara-gara, kerusuhan sampai di Sura-Layu, hingga menyusahkan para dewa. Batara Guru bertanya kepada Sanghyang Narada, apa yang menjadi sebab gara-gara. Sanghyang Narada memberi tau sebab terjadinya gara-gara karena tangis haru dari Dewi Sintam yang berduka cita sebab gugurnya Prabu Watu-Gulung. Batara Guru lalu memerintahkan Sanghyang Narada untuk menemui Dewi Sinta, memintanya supaya berhenti menangis. Ia menyanggupinya dalam waktu tiga hari sang Prabu Watu-Gunung akan dihidupkan kembali, diturunkan serta diangkat jadi raja di negara Giling-Wesi lagi.

Sanghyang Narada lalu menyampaikan perintah Batara Guru kepada Dewi Sinta. Dewi Sinta lalu berhenti menangis. Gara-gara besar itu pun segera hilang. Setelah sampai tiga hari Prabu Watu-sudah terjadi. Batara Guru menanyakan kepada Sanghyang Narada apa yang mejadi sebab gara-gara. Sanghyang Narada menjawab, bahwa yang menjadi sebab gara-gara itu adalah Dewi Sinta juga. Karena sudah sampai batas tiga hari, prabu Watu-Gunung belum keblaki ke Negeri Giling-Wesi. Batara Guru lalu memerintahkan Sanghyang Narada, menghidupkan kembali Prabu Watu-Gunung, serta memulangkan ke negara Giling-Wesi.

Setelah Prabu Watu-Gunung dihidupkan kembali oleh Sanghyang Narada, ia diperintahkan kembali ke negeri Giling-Wesi. Tetapi sang Prabu tidak mau, sebab sudah merasa senang disurga. Permintaanya, permaisuri beserta putranya agar dinaikan ke surga bersatu dengan sang Raja. Batara Guru mengizinkan permohonan itu, lalu memerintahkan permaisuri beserta putranya naik ke surga. Mereka diambil satu-persatu tiap hari Ngahad (Ahad, Minggu). Itulah permulaan adanya wuku tiga puluh.

Dari permintaan Sanghyang Narada kepada Batara Guru, Batara Wisnu diturunkan ke Marcapada menjadi raja para lelembut dan menguasai delapan tempat: di Gunung Merapi, Pamantingan, Kabareyan, Lo-Daya, Kuwu, Wringin Pitu, Kayu Ladeyan, dan di Roban.

Batara Brama diturunkan ke Marcapada menjadi raja di Negara Giling-Wesi, menggantikan Prabu Watu-Gunung. Pulau Jawa sudah tahluk. Lama-lama, Bataran Brama punya anak putri, bernama Bramani. Dan Bramani berputra Tri Usta. Tri Usta berputra Pari Kenan. Pari Kenan berputra Manu Manasa. Manu Manasa berputra Sakutrem. Sakutrem berputra Sakri. Sakri berputra Palasara. Palasara berputra Bengawan Abiyasa. Abiyasa berputra Pandu-Dewa-Nata, menjadi raja di Astina.

Pandu-Dewa-Nata berputra Arjuna. Arjuna berputra Abimanyu. Abimanyu meninggal di medan pertempura, meninggalkan istrinya yang hamil tua. Sang istri melahirkan seorang putra bernama Parikesit, menjadi raja di Astina pula. Prabu Parikesit berputra Yudayana. Yudayana berputra Gendrayana. Dan Gendrayana berputra Jayabaya. Lalu musnah negaranya. Jayabaya di Kediri berputra Jaya Wijaya.

Jaya Wijaya berputra Jaya Misena. Jaya Misena berput a Kusuma Wicatra. Kusuma Wicatra berputra Citrasoma. Citrasoma berputra Pancadriya. Pancadriya berputra Angling-Driya. Angling Driya berputra Prabu Sawela Cala, merajai tanah Jawa. Negaranya di Parwacarita. Prabu Sawela Cala berputra Sri Maha Panggung. Patihnya bernama Jugul Muda.

Sri Maha Panggung berputra Kandi Awan. Patihnya bernama Kontara. Kandi Awan berputra lima. Yang pertama Panuhun, jadi raja para petani di Pagelen; yang kedua bernama Sandang Garba menjadi raja pedagang di Jepara; yang ketiga bernama Karung Kala. Kesukaanya berkelana dihutan. Menjadi raja di Prambanan bergelar raja Baka. Putra yang keempat bernama Tunggul Metung. Kesukaan nya menjadi pekerja. Putra yang kelima bernama Resi Gatayu, menggantikan ayahnya menjadi raja di Koripan. Resi Gatayu berputra lima. Putra pertama putri, bernama Rara Suciya. Kedua bernama Lembu Amilihur, menjadi raja Jenggala; yang ketiga bernama Lembu Peteng, menjadi raja di Kediri; yang keempat bernama Lembu Pengarangn menjadi raja Gegelang, yang kelima putri bernama Ni Mregi Wangsa. Suaminya bernama Lembu Wijaya, menjadi raja Singasari.

Lembu Amiluhur berputra Panji, menyunting putri dari Kediri bernama Dewi Candra Kirana atau Dewi Galuh. Panji berputra Kuda Laleyan, menjadi raja di Pajajarn. Prabu Laleyan berputra Banjaran Sari berputra Munding Sari. Munding Sari berputra Sri Pamekas. Sri Pamekas berputa Arya Bangah dan Raden Sesuruh. Arya Bangah menjadi raja di Galuh. Sedang Raden Sesuruh itu diharapkan menjadi raja Pajajaran.

Lanjutannya bisa dilihat disini:
http://www.paranormal.or.id/tag/babad-tanah-jawi/

SHARE

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY