Tembang “Ilir-ilir” karangan Sunan Kali Jogo (I)

278

Siapa yang tidak kenal tembang lagu Ilir-ilir dan Dandang Gula, khususnya dikalangan orang jawa. Walaupun terkesan enteng, tetapi sesungguhnya didalamnya sarat dengan nilai dakwah dan tasawuf yang tinggi. Sebagai seorang wali Allah yang sangat jenius dalam bersyiar, beliau menggunakan budaya kultur setempat sebagai sarana pendekatan yang sangat efektif. Mari kita kupas tembang ini.

Bagi yang mungkin belum tahu atau sudah lupa tembangnya, ini dia lengkapnya:


Lir-ilir, lir ilir
Tandure wis sumilir
Tak ijo royo royo
Tak sengguh penganten anyar.

Cah angon-cah angon
Peneken blimbing kuwi
Lunyu lunyu ya peneken
Kanggo mbasuh dodotiro.

Dodotiro.. dototiro
Kumitir bedah ing pinggir
Dondomana jlumatono
Kanggo seba mengko sore.

Mumpung jembar kalangane
Mumpung padang rembulane
Yo surake
Surak hayo !

Point dari tiap bait.
Ada 4 bait dari point tembang tersebut, yang secara umum menjelaskan hal-hal sebagai berikut:

Bait pertama, membangkitkan Iman Islam.
Bait kedua, perintah melaksanakan kelima rukun Islam.
Bait ketiga, bertobat dan memperbaiki segala kesalahan, sebagai bekal untuk kembali kepadaNya.
Bait terakhir, mengajak kita dan mengingatkan karena “mumpung” masih ada kesempatan.

Kupasan Bait I
Ilir-ilir Tandure wis Sumilir

Ilir-ilir (Bangun.. bangun..) itu, berasal dari bahasa jawa yang artinya bangun atau terjaga dari tidur.

Maksudnya disini, orang yang belum memeluk Islam dianggap sebagai sedang tidur, sehingga harus dibangunkan. Sedangkan yang sudah Islam, maka dianggap sudah sadar.

Dalam bahasa modern-nya Lir-ilir bisa diartikan: Bangun..bangunlah.. kealam pemikiran yang baru, yaitu agama Islam.

Tandure wis sumilir (Benihnya sudah tumbuh).
Maksudnya benih disini adalah benih iman, yang tentunya benih iman terhadap Islam. Secara hakikat Allah sudah mengisi setiap manusia dengan benih-benih kebaikan. Tinggal manusianya ada yang merawat dan ada juga yang mengacuhkannya.

Bila benih ini dirawat dengan baik, maka akan tumbuh subur. Tinggal cara kita merawatnya sajalah yang akan menghasilkan buah yang enak dimakan nantinya.

Cara merawatnya tentunya dengan memberinya pupuk dan makanan spiritual yang bersifat rohani, seperti: Membaca Al-Qur’an, Menghadiri Pengajian, Mendengarkan ceramah, membaca kitab2 dan hal-hal lainnya yang memang menunjang.

Buah dari hasil perawatan ini, nantinya dapat kita nikmati dalam bentuk kebahagiaan dan keselamatan baik didunia maupun akhirat.

bersambung..

SHARE

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY