Tenaga Dalam, untuk pengobatan.

435

Dari forum diskusi – Webmaster. Klik disini untuk linknya.
Assalamu’alaikum wr. wb.
Inilah yang sering2 saya sebut dengan perbedaan sudut pandang. Ada sebagian orang yang menerapkan fiqih secara ultra kanan, dan itu benar.
Dan ada juga orang yang bereksplorasi dengan segala kemampuan manusia yang telah Allah berikan kepadanya.

Sunnah Rasul bukanlah harga mati, berbeda dengan Al-Qur’an yang didalamnya terdapat perintah secara khusus dari Allah kepada manusia.

Sunnah adalah contoh kebaikan yang Rasul berikan untuk kebahagiaan kita.

Saya sering sekali bertemu typikal orang seperti ini, ketika ia berguru menuntut ilmu kepada seseorang maka ia mengunggul2kan, kemudian ketika menemukan kegagalan atau tidak berkembang maka ia akan mencari guru lain atau pandangan lain yang mendeskreditkan gurunya terdahulu.

Padahal seharusnya menurut saya, bila ada hal2 yang kurang berkenan dihati kita, diskusikan dulu dengan guru kita, biarkan beliau menjelaskan sudut pandangnya dari sisinya. Dan tentu saja kita juga perlu mencari sudut pandang lain yang berbeda untuk kita ambil bagian terbaik diantara mereka.

Izinkan saya menjelaskan sedikit mengenai ilmu hikmah ini yang ditulis pada tulisan sebelum ini.

Latihan tenaga dalam akan melahirkan kepekaan, kualitas rasa yang diatas rata2 orang yang tidak pernah melatih tenaga dalam.

Seorang praktisi tenaga dalam dalam prakteknya dapat menemukan dengan tepat lokasi2 penyakit umpamanya, atau hal2 yang berkaitan dengan deteksi lainnya.

Bahkan, menurut saya dapat mengalahkan kemampuan CT-scan dalam menelusuri setiap penyimpangan organ tubuh.

Umpamanya seorang pasien yang sakit kepala, tidak serta merta sakitnya ada dikepala, bisa saja ada bagian2 tubuh lainnya yang mengalami penyimpangan, sehingga menimbulkan sakit kepala.

Dan, kemampuan penyembuhan diri sendiri, bukankan memang sudah ada dalam diri manusia ?

Tenaga dalam secara prinsip dalam mengobati; ini berbeda dengan menyembuhkan yang hanya hak Allah; memberikan kualitas energi tambahan kepada pasien agar pasien memiliki tambahan energi untuk menyembuhkan dirinya sendiri.

Seperti vitamin yang dapat mempercepat proses penyembuhan, tenaga dalam secara aktif melahirkan energi baru yang dapat digunakan oleh tubuh pasien untuk penyembuhan.

Lokasi penyapuan pada daerah2 yang diyakini menjadi sumber sakit pasien, merupakan alat transfer dan uji terhadap penyakit pasien.

Transfer energi pada lokasi sakit bertujuan agar tubuh pasien dapat lebih konsentrasi melakukan penyembuhannya pada lokasi tersebut, dengan memasukkan energi pengobatan yang sesuai, sekaligus pengobat mendeteksi, apakah energi yang dimasukkan sudah sesuai dengan harapannya, sekaligus merasakan apakah sumber sakit masih terjadi penyimpangan.

Bila dirasa masih kurang efektif maka transfer energi dapat diulang dan ditambahkan hingga kualitas yang sesuai, sampai pada proses uji menyatakan penyakit itu sudah berkurang atau hilang sama sekali, ini tentu saja tergantung kepada kemampuan pengobatan dari sipengobat.

Jadi kalau seolah2 merasa penyakit sudah hilang, berarti bisa disimpulkan sipengobat sesungguhnya belum memiliki kepekaan yang cukup untuk bisa merasakan penyakit pasien.

Seperti memasukkan seperti sinar dan meneruskan ketubuh pasien, biasanya metode ini hanya diberikan kepada “PEMULA”, karena memang mereka belum mampu merasakan energinya sendiri, apalagi mengolahnya. Jadi diperlukan kemampuan bersugesti yang sesuai dengan levelnya. Kalau kemampuan murid meningkat, maka ia akan merasakan sendiri bagaimana energi itu terolah dan juga bisa merasakan kalau ia sudah berhasil mengirim energi ketubuh orang lain.

Sebetulnya gampang koq untuk menguji apakah kualitas tenaga dalam kita sudah memadai. Biasanya yang paling ekstreem adalah membuat pingsan seseorang (tentunya harus dikerjakan oleh ahlinya) dan ketika kita salurkan energi kepadanya maka ia akan sontak bangun. Kalau sudah seperti ini maka bisa dipastikan kita betul2 sudah mampu mentransfer energi.

Sebetulnya ilustrasi cahaya ini lebih kepada makna filosofis, seperti cerita di surat An-Nur. Apakah ada orang yang pernah melihat cahaya ilahi dengan sebenarnya ?

Penggambaran memang dibutuhkan untuk bisa merasakan sesuatu. Ini seperti mengungkapkan sesuatu yang sesungguhnya tidak bisa diungkapkan.

Contohnya bisakah menjelaskan manisnya gula, pahitnya kopi, atau nikmatnya berhubungan badan dengan pasangan sah kita?

Nah dalam menggambarkan ini biasanya kita menggunakan ungkapan2.

Terus terang, mengenai ruqyah saya juga tidak begitu setuju dengan cara2 yang seperti diperlihatkan, bukan pada ruqyahnya, tetapi pada prosesnya. Mengusir makhluk ghaib dengan menendang2 tubuh orang yang kesurupan, dan perbuatan2 yang kalau kita kaji secara rasional sangat tidak manusiawi. Harusnya yang disakiti adalah simakhluk pengganggu, bukan tubuh orang yang kesurupannya. Saya pernah melihat, orang yang habis dirugyah, badannya bilur2 merata, sampai saking kasihan saya bilang, mari kita laporkan ke Polisi sebagai bentuk penganiayaan yang sangat nyata. Kemudian jelas2 mereka (para peruqyah melarang kita berhubungan dengan setan; begitu mereka menyebutnya, rancu, kadang jin kadang setan, jadi menggambarkan seolah setan itu adalah jin), tetapi mereka seolah mampu menembus alam jin/setan, bahkan bisa mengetahui berapa jumlah mereka dsb. Bukankah kemampuan ini harusnya mereka hindari ?

Menurut saya secara logika seharusnya hancurkan saja setannya dengan ayat2 Al-Qur’an kalau mereka meyakini keampuhannya, tanpa perlu menyakiti tubuh korban (he.he.he.. sudah jadi korban kesurupan, jadi korban kebiadaban manusia juga).

Apakah kalau Rosul masih hidup, beliau akan membenarkan menyakiti sesama ini? Masya Allah !!

Banyak lagi cara2 melihat dari berbagai sudut pandang ini yang ingin saya sampaikan, tetapi mari kita jadikan saja bahan diskusi.

SHARE

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY