Perspektif, lagi lagi perspektif. Ah !

237

Diambil dari Buku Tamu oleh Webmaster:
Assalamu’alaikum wr. wb.
Sebetulnya sering saya bahas masalah ini. Inilah yang sering saya sebut dengan perspektif. Suatu sudut pandang. Mengenai perspektif ini sendiri, sebetulnya sudah sering saya ungkap dalam berbagai tulisan.
Ibarat sebuat bola yang kita cat setengah putih dan setengahnya lagi hitam, dan kita perlihatkan pada 2 orang dari sudut pandang yang berbeda.

Maka mereka akan melihat warna yang berbeda juga. Yang satu akan bilang bola itu putih, dan sangat sangat yakin dengan penglihatannya, sedang yang lainnya akan bilang hitam dan sangat yakin dengan penglihatannya juga. Bisa saja mereka gontok2an karena keyakinan mereka tersebut. Tidak ada yang salah, apalagi benar dalam hal ini. Tapi, kalau masing2 mau melihat sudut pandang orang yang lainnya, maka mereka akan sama2 mengetahui, kalau secara hakikatnya ini hanyalah sebuat bola.

Ajimat, jimat, azamah, wafaq, wifiq dsb. adalah bentuk sama dalam berbagai pengertian. Ghozali, dalam kitab dalailul khoirot, ini juga menjadi rujukan ulama fiqh, juga memberi petunjuk mengenai pembuatan wafaq ini.

Seperti kita sholat menghadap kiblat, buat sebagian orang kita dianggap sedang menyembah ka’bah. Buat umat Islam, tentu saja bukan, karena yang kita sembah hanya Allah.

Begitupun tulisan mengenai syirik, juga ada banyak dalam situs ini.

Malah, menurut saya, syirik bukanlah lagi perkara doktrinasi, tetapi merupakan perkara paling rasional yang bisa diungkapkan dengan akal pikiran kita. Dimana kalau sudah menjadi bentuk kesadaran, kita akan sangat mudah menghindarinya.

Sekali lagi ini hanyalah masalah perspektif. Menjadi salah bila dilihat dari satu sudut, menjadi benar bila dilihat dari sudut lain. Agama adalah tuntunan, petunjuk. Tanpa akal pikiran, maka itu hanya sekedar menjadi petunjuk. Ini adalah faktual, kenyataan yang sangat pahit, melihat saudara2 kita hanya sekedar beragama menerima doktrinasi, tanpa mengambil hikmah dari petunjuk tersebut.

Ketika kita sudah bebas dari doktrinasi, maka saya menyebutnya kita sudah merdeka. Dengan akal pikiran bisa memutuskan apa yang terbaik untuk kita.

LaranganNya, tidaklah lagi menjadi larangan, tetapi menjadi suatu hal yang memang harus dihindari. Beribadah bukanlah lagi suatu keharusan, tetapi sesuatu yang harus dicapai. Menjalankan segala perintahNya, menjadi suatu kenikmatan karena menjadi bahagia karenanya. Dan hal ini hanya bisa dicapai ketika kita menggunakan segenap akal pikiran kita.

Saya contohkan saja secara nyata, sudah jelas merokok merusak kesehatan (bahkan petunjuk ini ada dalam kemasannya), ini bisa dibuktikan dengan akal pikiran, bahkan merusak juga lingkungan kita, sahabat, keluarga kita yang tidak merokok, tetapi masih saja diantara kita ada yang menggunakannya. Kalau saja mereka mau menggunakan segenap akal pikirannya dan mau menjadi rahman rahimNya, tentu perbuatan merusak tersebut tidak akan mereka kerjakan. Buat apa Tuhan memberi tubuh kita yang sehat untuk kita rusak?

Saya mungkin saja salah dari suatu sudut pandang, tetapi paling tidak saya merasa yakin benar, juga memiliki metode sendiri dalam bersyiar. Saya yakin andapun demikian.

Pendekatan saya adalah menggunakan akal pikiran untuk mencapai iman dan taqwa. Dan inilah situs Paranormal Indonesia. Menjadi manusia yang penuh hikmah, bermanfaat untuk sesama, dengan mengedepankan rasionalitas, he.he.he.. setidaknya menurut saya.

SHARE

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY