Memulai Belajar Ilmu Hikmah (Bag. I)

1026
Belajar Ilmu Hikmah

Melanjutkan tulisan sebelumnya, panduan belajar ilmu hikmah, maka tulisan berikut langkah-langkah yang sebaiknya dilakukan dalam mengolah ilmu hikmah, agar benar-benar menjadi hikmah dan sesuai dengan prinsip Islam, Rahmatan Lil ‘Alamin, rahmat untuk alam semesta.

Ketika seseorang tertarik untuk belajar ilmu hikmah, tentunya ada motivasi, ada keinginan atas suatu manfaat yang ingin didapat. Informasi mengenai keinginan ini biasanya bersumber dari berbagai hal, iklan, publikasi media, dengar-dengar, kegiatan suatu perguruan atau pesantren, dsb. Dan umumnya tertarik untuk mempelajari suatu ilmu hikmah tersebut karena suatu sebab, entah karena ada masalah, ingin selamat, keinginan untuk menolong sesama dan sebab-sebab lainnya.

Apapun motivasi dan sebab, harus diingat, belajar ilmu hikmah itu kalau berhasil, maka hasilnya tersebut karena keridhoan Allah atas jawaban dari segala ujian hidup yang kita terima. Praktek-praktek demonstrasi dari ilmu hikmah yang kita pelajari harus diikuti dengan itikad syiar, umpamanya dengan menginformasikan sumber dari kekuatan tersebut berasal dari keridhoan Allah, dan mengajak mereka untuk sama-sama meningkatkan iman dan taqwa kita, dsb. dan jauh dari sifat riya’ menyombongkan diri, tinggi hati dan sifat tercela lainnya.

Tanpa mengindahkan ini, dikhawatirkan ridho Allah akan berubah menjadi laknat Allah. Ilmu yang tadinya menjadi hikmah bermanfaat akhirnya berubah menjadi bencana dan menjadi azab paling menyedihkan.

Singkatnya, berikut adalah yang sebaiknya dilakukan untuk memulai belajar ilmu hikmah.

I. Cabang ilmu hikmah.
Cabang ilmu hikmah biasanya dibagi dalam 3 kategori besar dengan banyak varian yaitu:

1. Keselamatan
2. Pengasihan
3. Ketabiban/Pengobatan

1. Keselamatan
Walaupun semua cabang ilmu hikmah, tujuan utamanya adalah keselamatan. Yaitu selamat dunia dan akhirat. Bisa menyelamatkan kehidupan didunia dan mengajak orang juga agar bisa selamat diakhirat kelak. Selamat juga sangat berarti luas. Selamat dari kemiskinan, selamat dari kezholiman orang lain, selamat dari musibah, selamat dari azab dunia, selamat dari azab akhirat, dan selamat yang menyelamatkan, serta selamat lainnya adalah tujuan utamanya.

Tetapi cabang keselamatan yang ini biasa dikaitkan dengan ilmu-ilmu hikmah yang menjurus kepada kedigjayaan atau kesaktian, dengan penekanan pada sifat keselamatan atau defensif bukannya ofensif atau menyerang.

Inilah cabang ilmu hikmah yang memiliki varian terbesar. Perguruan- perguruan tenaga dalam biasanya menggabungkan teknik2 gerak dan pernafasan dengan ilmu-ilmu hikmah. Silat hadiran, ilmu kontak, asma kurung, dsb. tersebut merupakan mata pelajaran utama. Praktek- praktek kekebalan, anti bacok, tusuk, sayat/iris, api, jaduk, dsb. akrab dengan ilmu hikmah ini.

Kalau diperhatikan, varian ini sesungguhnya hanya bersifat defensif. Sifat ofensifnya didapat dari latihan gerak silatnya, bukan dari pengolahan ilmu hikmahnya. Inilah sebabnya kenapa dikatakan khowas atau keutamaan dari ilmu hikmah yang kita pelajari akan keluar ketika kita terdesak. Ketika kita menjadi orang yang teraniaya maka perlindungan Allah datang membantu kita. Kurang lebih begitulah konsepnya.

2. Pengasihan
Ini juga cabang ilmu hikmah yang paling banyak dicari. Kesulitan karena masalah percintaan atau rumah tangga, hambatan dalam berkarir dan mencari pekerjaan, memantapkan jabatan, penglarisan agar usaha ramai dan lancar, dsb. Bertujuan agar orang orang lain mencintai, menyayangi, kasihan, dipercaya, terlihat berwibawa, dsb. termasuk dalam kategori ini.

3. Pengobatan/Ketabiban
Membantu mengobati orang lain, memohon kesembuhan kepada Allah. Menjadi perantara penyalur energi penyembuhan dariNya, dsb. Konsep- konsep yang umumnya dipakai dalam praktek pengobatan dengan pendekatan ilmu hikmah. Pendekatan ilmu hikmah pengobatan kadangkala dipenuhi dengan praktek mistik yang sulit diterima akal. Sehingga pengobatan menggunakan ilmu hikmah ini menjadi semacam rahasia buat para praktikusnya.

Ada pemikiran ilmu pengobatan ini sebagai sesungguhnya ilmu hikmah yang merupakan pengejawantahan dari Rahmatan Lil ‘Alamin. Karena 2 cabang ilmu hikmah seperti Keselamatan dan Pengasihan bersifat egois hanya untuk keperluan diri sendiri. Berbeda dengan pengobatan yang berusaha menolong sesama.

Kalau menurut saya sama saja. Semua ilmu hikmah dalam prakteknya bisa kita pakai untuk Rahmatan Lil ‘Alamin.

Ilmu keselamatan bisa kita gunakan untuk amar ma’ruf nahi munkar, menjaga martabat, memerangi kejahatan, membela yang lemah, membela agama dan negara serta hal-hal hikmah lainnya yang tidak hanya berkaitan dengan diri sendiri.

Ilmu-ilmu pengasihan bisa kita gunakan untuk menenangkan orang yang sedang emosi atau marah, mendamaikan pasangan suami istri yang sedang ada masalah. Mengembalikan orang yang pergi tanpa khabar atau hal lain yang relevan. Ketika jabatan sudah mantap, bisa kita pergunakan untuk menolong sesama dengan memperkerjakan orang yang membutuhkan pekerjaan dsb.

Terlihat, ilmu hikmah, apapun cabang ilmunya akan betul-betul menjadi hikmah dan semuanya memang merupakan pengejawantahan dari prinsip Islam yaitu rahmatan lil ‘alamin, rahmat untuk alam semesta .

II. Mencari Guru Pembimbing.
Walaupun buku atau kitab yang mengupas ilmu hikmah itu banyak tersedia, tetapi, jangan, sekali lagi, jangan memulai belajar dari buku-buku ini. Kita membutuhkan guru pembimbing yang dapat membantu kita menguasai ilmu hikmah yang ingin kita pelajari. Pada akhir tulisan akan saya perlihatkan tabel kerugian belajar tanpa guru dibanding dengan guru.

Memang, mencari guru pembimbing ini susah-susah gampang. Tetapi sebagai patokan untuk mudahnya, cari saja ulama atau kyai atau ajengan yang memang senantiasa berhikmah dalam kehidupan sehari- harinya. Jangan memulai dari iklan atau tokoh yang dieksploitasi media. Nantinya bila memang sudah memiliki bekal cukup, silahkan mencari guru-guru alternatif non karir tersebut.. 🙂

Walaupun pendapat ini tidak mutlak benar, tetapi percayalah, hikmah dari ulama tersebut akan melindungi kita dari praktek penipuan para guru hikmah karbitan.

Kemudian, setelah mendapatkan hikmah beserta tausiahnya dari ulama tersebut, silahkan bereksplorasi dalam dunia hikmah. Selanjutnya, siapa saja bisa menjadi guru hikmah anda. Kalaupun anda kena tipu, setidaknya anda tetap mendapat hikmah agar jangan lagi sampai tertipu 🙂

III. Sediakan waktu yang leluasa.
Belajar ilmu hikmah, anda membutuhkan waktu yang sangat leluasa. Keerhasilan mengolah ilmu hikmah ditentukan dari seberapa besar anda berhasil memenejemen waktu anda. Semakin banyak anda meluangkan waktu, semakin besar tingkat keberhasilan. Bila anda termasuk orang yang sangat sibuk, sebaiknya jangan sekali-kali belajar. Karena akan membuang-buang waktu berharga anda.

IV. Siapkan mental dan fisik.
Kesabaran, ketekunan, menejemen emosi, kemampuan pengolahan fisik dsb. Banyak ilmu-ilmu hikmah memerlukan puasa dan ritual tengah malam. Dan rasanya sangat sulit melakukan itu ditengah aktifitas kita yang sangat tinggi. Siapkanlah dulu diri anda, dengan banyak beristirahat, mengkonsumsi vitamin dan hal-hal lain yang dipandang perlu, seperti rutin berolahraga agar badan bugar dsb. Badan yang bugar menjamin ritual kita dapat kita laksanakan dengan baik. Buktikan.
V. Meningkatkan iman dan taqwa.
Seperti saya jelaskan, ilmu hikmah bersumber dari keridhoan Allah SWT. Reward dari Allah karena kedekatan kita kepadaNya-lah yang melahirkan keutamaan/kekhowasan dari ilmu hikmah yang kita amalkan.

Percayalah, tidak mungkin ada ilmu hikmah yang bisa kita praktekkan tanpa adanya iman kepadaNya. Peningkatan taqwa kita akan berbanding lurus dengan hasil yang kita dapat dari pengolahan ilmu hikmah ini. Jadi meningkatkan derajat iman dan taqwa kita kepadaNya, itu sama saja dengan meningkatkan kemampuan hikmah kita.

Tulisan selanjutnya, membahas analogi turunnya ilmu hikmah.

SHARE

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY