Panduan Belajar Ilmu Hikmah

1074

Untuk yang ingin memulai belajar ilmu hikmah, mungkin panduan ini bisa sedikit membantu, atau setidaknya bisa menjadi wacana untuk mengenal ilmu hikmah itu sendiri.

Apa yang dimaksud ilmu hikmah?
Hikmah sendiri artinya bermanfaat. Jadi ilmu hikmah seharusnya berarti ilmu-ilmu yang bermanfaat, setidaknya bermanfaat untuk diri sendiri. Syukur-syukur bisa bermanfaat untuk orang lain.

Ilmu hikmah sendiri biasanya bersumber dari perkembangan ajaran Islam, entah itu diambil dari khowas atau keutamaan ayat-ayat Al- Qur’an, Asma-asma Allah, atau do’a-do’a para wali Allah yang biasa kita kenal dengan Hizb, atau bisa juga merupakan barokah untuk sebagian orang yang memang dikehendakiNya agar memiliki kemampuan hikmah. Jadi tulisan mengenai ilmu hikmah ini adalah yang berkaitan dengan Ilmu Hikmah Islam.

Siapa yang menemukan Ilmu Hikmah?
Ilmu hikmah, menurut para guru hikmah, adalah buahnya tasawuf. ( Artikel mengenai tasawuf bisa dilihat disini.) Orang yang dekat dengan Allah, biasanya para Wali/ kekasih Allah, senantiasa bertafakur, merenung tentang hakikat kehidupan, berhasil membongkar rahasia-rahasia tentang ilmu hikmah, tentunya atas ijin dan petunjuk dariNya. Hasil olah pikir mereka, inilah yang kita kenal dengan ilmu Hikmah. (Artikel yang membahas mengenai rahasia ini bisa dilihat disini.)

Ilmu hikmah sendiri sebetulnya banyak dicontohkan oleh Rosul, bahkan nabi sebelum Rosul, seperti do’a-do’a pengusir syaitan, do’a keselamatan dsb. Yang bila kita amalkan dengan baik tentunya memiliki manfaat yang sesuai.

Bahkan, sebagian besar ilmu-ilmu hikmah ini diambil dari do’a-do’a para nabi yang ada didalam Al-Qur’an. Seperti ilmu kebal besi, diambil dari do’anya nabi Daud, kemampuan penguasaan jin diambil dari do’anya nabi Sulaiman dsb.

Bagaimana kemampuan tersebut bisa timbul?
Ini sulit dijawab, karena mungkin diluar kemampuan akal manusia dan benar-benar hanya harus diyakini dengan iman. Tetapi banyak pendapat mengenai hal ini yang beredar dikalangan praktisi ilmu hikmah, saya ambil beberapa yang paling relevan.

1. Kemukjizatan Al-Qur’an.
Al-Qur’an adalah mukjizat. Karena kandungan Al-Qur’an, merupakan firman Allah SWT. Mengamalkan isi Al-Qur’an berarti kita mempraktekkan kemukjizatan itu sendiri. Kekuatan atau kebisaan yang timbul karena praktek kita tersebut merupakan anugerah/reward dari Allah SWT atas pencapaian mengupas rahasia kemukjizatan Al-Qur’an itu sendiri. Pandangan ini murni berbentuk keimanan, sehingga penjabaran yang lebih dari ini sudah hampir dipastikan tidak akan bisa diterima oleh rasional manusia.

2. Kedekatan Manusia dengan Tuhannya.
Kemampuan ilmu hikmah tidak akan timbul begitu saja tanpa manusia dekat denganNya. Kemampuan-kemampuan yang timbul karena keinginan manusia yang dikabulkan OlehNya. Supaya segala keinginan dikabulkan tentu saja kita harus dekat sekali denganNya. Dalam praktek ilmu hikmah banyak dikenal istilah berwasilah atau berperantara melalui orang-orang yang dekat denganNya atau biasa disebut wali Allah. Para auliya / wali Allah inilah orang-orang yang berhasil mengupas rahasia-rahasia tersebut.

Ibaratnya begini, permohonan seorang rakyat jelata, tentu berbeda dengan menteri yang dekat dengan presiden, dimana seorang menteri karena kedekatannya mungkin saja lebih mudah untuk dikabulkan. Seorang rakyat yang didampingi menteri, maka presiden akan memandang simenteri akhirnya keinginan rakyat jelata tersebut dipenuhi. Inilah konsep wasilah tersebut.

Jadi ilmu-ilmu hikmah yang diwasilahkan melalui wali kepada Allah akan memiliki kualitas yang setidaknya hampir sama seperti ilmu yang dimiliki wali itu sendiri.

3. Hasil pengolahan bathin.
Ilmu hikmah didapat melalui disiplin yang ketat. Jumlah dzikiran yang banyak, mengurangi tidur, berpuasa dsb. itu seperti makanan sehari-hari oleh praktisi ilmu hikmah.

Banyak praktikus kebathinan non Islam mempraktekkan kondisi-kondisi ekstrim untuk mencapai ilmunya. Seperti ajaran-ajaran Hindu-Budha, mampu mencapai kemampuan tertentu dengan melakukan aktifitas yang ekstrim seperti bermeditasi dan berpuasa berhari-hari ditempat tertentu, di-China, praktikus kungfu memaksikmalkan kemampuan dirinya dengan latihan-latihan yang berat dan sangat ekstrim dsb. Termasuk aliran kebathinan kejawen melalukan ritual tertentu seperti kungkuman dan praktek ekstrim lainnya. Semua serba ekstrim, untuk pencapaian maksimalnya.

Saya sendiri berhasil membuktikan, lewat pelatihan kepekaan rasa, bisa diperoleh hasil-hasil menakjubkan seperti anti cukur dan iris tanpa melibatkan unsur ghaib, murni melalui melatih kepekaan.

Analoginya begini, kunci dari pengolahan bathin adalah kualitas konsentrasi.

Dzikir, meditasi dsb. membantu meningkatkan kualitas konsentrasi. Bisa kita buktikan, sebagian besar kegagalan dalam mengolah ilmu hikmah pada kualitas dzikirnya yang sangat kurang. Sehingga motivasi sangat diperlukan. Apa motivasi utama yang dibutuhkan agar berhasil, ya tentu saja agar bisa mendapatkan ilmunya. Oleh karena itulah banyak orang yang ngoyo mengerjakan ritualnya. Dan rewardnya adalah keberhasilan.

Sedangkan berpuasa, kungkuman dsb. itu merupakan penguat sugesti. Dengan mengerjakan kondisi-kondisi ekstrim, maka akan terbentuk pola sugesti yang kuat, sehingga akhirnya menjadi ilmu yang diyakini.

Cabang Ilmu Hikmah.
Cabang Ilmu hikmah sendiri banyak, seperti Ilmu Pengobatan/Tabib, Ilmu Keselamatan, Ilmu Pengasihan/Mahabah, dan lain-lain. Dimana untuk mendapatkan kemampuan ini diperlukan tata cara atau aturan tertentu. Istilah yang umum digunakan oleh praktisi ilmu hikmah disebut “NGELMU”.

Kontroversi seputar ilmu hikmah.
Banyak pandangan beredar, kalau ilmu-ilmu hikmah itu ibarat mistik. Bahkan peran jin selalu dikaitkan dengan praktek ilmu-ilmu hikmah ini. Saya bilang, belum tentu !! Dalam Al-Qur’an saja dicontohkan, bagaimana Jin kalah oleh Ahli Hikmah dalam memindahkan singasana Ratu Balqis.

Saya membuktikan dalam berbagai pelatihan, kemampuan-kemampuan lebih, seperti kekebalan, sampai anti cukur dan iris, deteksi dsb. bisa kita dapatkan melalui pengolahan bathin, pengolahan diri, tanpa campur tangan ghaib.

Walaupun tidak dipungkiri juga, dalam beberapa cabang ilmu hikmah, ada beberapa unsur ghaib yang terlibat, tetapi setidaknya ilmu tersebut merupakan ajaran sangat rahasia yang tidak sembarangan disebarluaskan, sehingga mendapatkannya juga akan sangat sulit.

Kemudian pendapat lainnya adalah isu syirik. Ini memang perkara sulit diterka, pembahasan mengenai syirik ini silahkan lihat disini .

Tetapi saya punya pendapat sederhana, sepanjang kita hanya memintanya kepada Allah SWT. Harus juga diyakini dengan iman yang mendalam, bahkan semua kebisaan tersebut tentunya hanya Allah yang bisa menurunkan.

Ini seperti kita berdo’a mohon rejeki dari Allah, bukan berarti serta merta Allah jatuhkan bongkahan emas didepan kita, tetapi rejeki itu Allah syareatkan melalui kemudahan-kemudahan dalam mencari rejeki, orang yang senang membantu kita dsb.

Begitupun dalam memohon keselamatan, bisa saja Allah mensyareatkan melalui makhluk2 ciptaanNya. Kita tidak usah pusing. Yang penting minta selamatnya hanya kepada Allah SWT. Terserah Allah bagaimana menurunkan bentuk keselamatan tersebut kepada kita. Itu menurut saya, tentu saja. Tulisan mengenai ini juga banyak ada dalam artikel-artikel yang saya tulis.

Karena sudah terlalu panjang tulisannya saya sambung pada artikel selanjutnya yaitu “Memulai belajar Ilmu Hikmah”.

SHARE

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY