Ilmu Hikmah & Resep Makanan

473
Ilmu Hikmah dan Resep Makanan
Ilmu Hikmah dan Resep Makanan

Dalam suatu diskusi di Yahoo Messenger, dan pada beberapa topik diforum diskusi juga, ada yang mengatakan, kok hampir semua tulisan ilmu yang ada disitus ini maupun situs, atau perguruan lain itu seperti mengambil dari salah satu kitab kumpulan ilmu hikmah atau spiritual?
Menjawab ini, saya katakan, ini seperti Resep Makanan.

Hampir semua ilmu hikmah Islam berdasar kepada 2 kitab kesohor yaitu: Syamsul Muarif & Dalailul Khoirot. Kedua kitab ini, seperti bacaan wajib untuk santri dipesantren2 Syalafi atau pesantren NU. Didalamnya berisi hizb-hizb, do’a-do’a muzarab, dan tentu saja ilmu-ilmu hikmah praktis yang bisa dijadikan wacana.

Ada juga orang yang mengumpulkan ilmu-ilmu hikmah dari para Alim Ulama pulau Jawa digabungkan dengan praktek kepercayaan setempat yang diyakini memang memiliki khasiat dalam buku-buku sempalan baru. Seperti buku: Mujarobat, Silah hikmah (dalam bahasa jawa; kemarin saya menemukan terjemahnya dalam bahasa indonesia berjudul Silahul mukmin), Hikmatul Ihsan, dsb.

Kepercayaan setempat, khususnya dari pulau jawa yang populer seperti, mimpi buruk membalik bantal, pengasihan dengan air dari limpahan kaki dan menggunakan bulu cambang (ada ulasannya disitus ini), membuang sial, mantra-mantra dsb. itu juga dibukukan dalam kitab-kitab tersendiri.

Lantas apanya yang seperti resep makanan?

Ibaratnya seperti ini, siapa yang tidak kenal masakan Rendang? Rasanya hampir semuanya kenal makanan dari ranah minang ini.

Nah, resep untuk membuat rendang ini bisa kita jumpai dimana-mana, dalam berbagai cetakan buku, majalah, koran dsb. Bahkan ada rendang siap saji, dimana kita tinggal makan saja. (He..he..he.. itu kan di restoran padang..)

Kalau kita perhatikan, bahan dasar rendang, seperti cabe, daging dan santan rasanya sangat mudah kita dapatkan. Tetapi membuat rendang yang enak dimakan itu perkara lain. Walaupun anda mengikuti semua petunjuk resep yang ada dari ratusan cetakan resep makanan, belum tentu anda akan mendapatkan rasa rendang seperti dari restoran kesayangan anda.

Pengolahan makanan rendang itu ibarat rahasia koki restoran kesayangan kita, kalau kita tanyakanpun kepadanya, pasti jawabannya sama seperti yang ada dicetakan kumpulan resep tersebut. 😀

Begitupun dengan ilmu hikmah. Hampir semua rujukan ilmu-ilmu hikmah yang beredar dipulau jawa, yang dimiliki oleh ulama-ulama hikmah itu ada dalam kitab-kitab ilmu-ilmu hikmah. Kalau anda malas untuk berburu keulama-ulama tersebut, ya setidaknya anda dapat berburu buku-buku ilmu hikmah yang memuat ilmu-ilmu mereka ditoko buku.

Tetapi….. sama seperti rendang tadi, anda tidak akan mendapatkan “rasa” yang sama ketimbang anda berguru langsung kepada guru yang menurunkan ilmu hikmah tadi. Kalaupun anda berhasil, yang anda dapatkan mungkin “rasa yang mirip-mirip”.

Contohnya begini, Hizb Barqi. Kumpulan hizb ini ada pada lebih dari 10 kitab ilmu hikmah yang pernah saya baca. Dari semua kitab tersebut, hanya diuraikan cara “ngelmu”-nya, cara mendapatkan ilmu tersebut dengan ritual tertentu. Ada yang tahu cara mempraktekkannya dalam hikmah keseharian? Tahukah bagaimana dengan hizb barqi kita bisa menghangatkan segelas air, mengobati penderita rematik dsb?

Disinilah peran guru dibutuhkan oleh para praktikus ilmu hikmah. Anda tidak dapat berdiskusi dengan buku. Bahkan kadang dengan penulisnyapun anda tidak akan bisa bertemu, entah karena menggunakan nama samaran atau sudah almarhum.

Kitab-kitab ilmu hikmah itu seperti wacana, pengingat, dokumenter, dsb. Kitab-kitab tersebut tentu saja tidak seinterakif manusia, dimana anda bisa bertanya, berdiskusi, menerima tausiah ilmu dsb.

Wajar saja bila oleh sebagian guru hikmah dikatakan, belajar ilmu hikmah tanpa guru, berarti belajar dengan syaitan. Kenapa?

Efek dari belajar sendiri, ternyata lebih banyak merugikannya ketimbang untungnya. Belajar sendiri bila kita kelewat PD ( percaya diri), membuat kita yakin ilmu sudah masuk, kita sudah mendapatkan pencahayaan, mendapat petunjuk langsung dsb. Atau malahan ketika menemukan suatu fenomena, anda akan terus bertanya dalam hati, apakah itu.. apakah itu… ah… pusiiiing.. Sehingga terjadi penyimpangan-penyimpangan dalam prilaku sehari-hari. Atau bahasa gaulnya: Sukses, anda telah kentir (gila) !!

Guru, bisa menjadi tempat kita bertanya dan berkoreksi dan seorang guru biasanya mempunyai nilai-nilai normatif yang bisa diukur. Kita bisa berdiskusi tentang berbagai hal yang berhubungan dengan ilmu-ilmu yang kita pelajari. Menanyakan, apakah kita sudah berhasil mengolah ilmu tersebut, bagaimana cara mempraktekkannya agar menjadi hikmah.. dsb.

Nah, resepnya sudah dicoba? Enak? Hmmmm, ueeeenakkkk….. 😀

SHARE

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY