Jual Beli ayat Al-Qur’an?

377

Ramai dibicarakan mengenai jual beli ayat Al-Qur’an ini. Tetapi, memang kenyataannya jual beli Al-Qur’an itu memang ada. Dan bahkan sudah sangat akrab dengan prilaku kita sehari-hari. Untuk itu mari kita diskusi melalui tulisan ini dengan memberi komentar. Tulisan ini WAJIB anda baca !!

Jual Beli, berarti ada yang menjual dan ada yang membeli. Dalam hukum perdagangan, jual beli dikatakan sebagai transaksi perdagangan. Dimana pembeli mengharap manfaat dari barang atau jasa yang dibeli dari penjual.

Bisa dikatakan terjadi penipuan kalau barang/jasa yang dibeli tidak sesuai dengan pernyataan penjual.

Sebelum kita mulai pembahasan kita, mari kita cermati dahulu, jual beli Al-Qur’an yang biasa terjadi.

Perdagangan Kitab Al-Qur’an . Al-Qur’an bisa anda “BELI” di toko buku, masjid, madrasah, pesantren atau tempat-tempat lain. Dimana setiap pembelian Al-Qur’an pasti melahirkan keuntungan untuk penjualnya. Besar keuntungan semakin tinggi bila Al-Qur’an yang dijual eksklusif, hardcover, langka, tulisan tangan atau tulisan tangan seorang imam tertentu. Hikmah yang bisa diambil, mulai dari memperoleh hikmah kebahagian atas setiap petunjuk yang dilaksanakan, sampai sekedar punya dan menjadi pajangan, sebagai bukti kalau diri kita muslim.

Begitupun dengan buku-buku kupasan Al-Qur’an. Yang sebagian besar isinya toh merupakan penjelasan dari kandungan Al-Qur’an. Ini harganya malah bisa jauh lebih mahal dari Al-Qur’an dengan kualitas cetakan yang sama. Apalagi pengarangnya terkenal, seperti Almarhum Buya Hamka dsb. Wuih, luar biasa mahalnya, bisa menembus setengah juta perjilid buku. Ini malah mungkin hanya anda baca 1 atau 2 kali saja. Bisa juga lebih, bila anda ingin mengambil referensi dari buku tersebut.

Mengundang Ulama yang dalam ceramahnya kudu wajib menyitir Al-Qur’an sebagai referensi. Ulama besar seperti Zaenuddin MZ atau Abdullah Gymnasiar (A’a Gym) anda perlu MEMBAYAR (halusnya mengeluarkan uang)setidaknya 3-5 juta (ini juga jual beli lho, perdagangan jasa tepatnya). Itupun harus booking/perjanjian terlebih dahulu dengan syarat-syarat tertentu. Umpama tempat, jumlah jamaah dsb. Hikmah yang diambil, dari pencerahan, sampai sekedar kumpul-kumpul masuk kuping kiri keluar kuping kanan. Bahkan yang namanya Al-Qur’an selular, anda harus “BAYAR” iuran bulanan untuk bisa “MENIKMATI” Al-Qur’an melalui Telpon anda.

Mengundang guru ngaji yang memberikan pelajaran mengenai cara membaca Al-Qur’an pun anda harus “MEMBAYAR” atas kedatangannya. Hikmah yang diambil mulai dari bisa membaca Al-Qur’an dan mengamalkannya, hingga sekedar pamer kalau ada tamu yang datang bahwa keluarga kita keluarga beriman.

Eh, mengadakan tahlilan dirumah, dimana dilakukan “PEMBACAAN” Ayat Suci Al-Qur’an, kita harus “MEMBAYAR” kelompok pengajian yang datang termasuk pimpinan kelompoknya. Bahkan anda juga harus membayar jamuan makan dan minum sekalian, atau setidaknya box yang dibawa pulang. Hikmah yang diambil, mulai dari membangun silaturahi antar tetangga dan mengumpulkan banyak pahala karena berjamaahnya, sampai sekedar budaya tahlilan kalau ada keluarga kita yang meninggal umpamanya.

Dan banyak lagi contoh lainnya sebenarnya.

Kalau kita cermati, semua itu membutuhkan uang, uang, uang dan uang.

Dalam teori perdagangan, kalau manfaat yang diperoleh tidak sesuai dengan yang dinyatakan dalam transaksi, maka telah terjadi unsur penipuan.

Nah, pertanyaanya, umpama anda membeli Al-Qur’an, kemudian, tidak mendapatkan kebahagian dunia seperti yang dijanjikan para ulama, apa anda merasa tertipu? Begitupun ketika anda menghadiri ceramah ulama, kemudian ternyata tidak membawa hikmah apa-apa untuk diri anda, apa anda juga merasa tertipu?

Perlu diingat, Al-Qur’an itu adalah tuntunan. Artinya, segala petunjuk yang diberikan asalkan kita kerjakan, dan menjauhi larangannya, dijamin akan bahagia hidup kita. Tidak hanya didunia, bahkan diakhirat kelak. Ini Allah yang menciptakan kita yang menjaminnya.

Masalahnya, yang diributkan itukan harus membayarnya. Kalau Allah turunkan untuk manusia, harusnya GRATIS. Begitu, bagaimana dengan uraian kasus diatas?

Saya setuju ISI Al-Qur’an harus gratis. Dan sesungguhnya yang anda bayar adalah ILMU-nya. Nah, ilmu ini ternyata terkait erat dengan komponen biaya. Ya, B I – A – Y A.

Untuk mendapatkan cetakan Al-Qur’an yang anda bayar adalah ilmu pencetakannya, harga kertas, tinta, finishing, packaging, dan pertokoan/storing. Ilmu pecetakan, ini didapat melalui investasi pembelian mesin cetak, yang merupakan ILMU yang dimiliki penemu atau pembuatnya. Komponen terbesar dari “HARGA” yang anda bayar adalah untuk manusia. Dan percetakan maupun pengecer harus untung. Kalau tidak untung tidak berdagang. Lho, koq Al-Qur’an diperdagangkan? Pertanyaan aneh !!! Silahkan cari kitab Al-Qur’an gratis. Dan coba bayangkan, mungkin ada yang gratis, tanpa ilmu pencetakan. Artinya anda harus menghapalnya. He..he..he.. (Eh, untuk bisa hafidz/hafal Qur?an, ada biayanya juga lho.)

Buku kupasan Islam lebih mahal dari Al-Qur’an. Ya jelas dong. Al-Qur’an tidak ada royalti untuk penulisnya yaitu Allah SWT., bahkan semakin sering anda baca, semakin banyak pahala yang anda kumpulkan. Sedang buku kupasan, penerbit harus membayar royalti kepada penulis. Kenapa penulis harus dibayar? Bayangkan jerih payahnya, menulis, eksplorasi Al-Qur’an itu menghabiskan banyak waktu, belum lagi menulis kupasannya. Dan, hey, baik sipenulis dan keluarganya harus hidup kan? Ini perlu biaya dong. Maka dari itu kalau ada yang membajak tulisan hasil daya pikir seseorang, waduh, ini betul-betul keterlaluan !!

Bagaimana dengan ulama? Sekali lagi yang anda bayar adalah ilmu si Ulama. Untuk bisa menjadi penceramah yang hebat, si ulama harus sekolah setingginya, banyak membaca buku-buku bermutu (tahu kan harganya muaaahaaal sekali?), berkunjung ke ulama lain untuk tambahan pengetahuan (butuh biaya transportasi yang lumayan, umpama dari Jakarta ke Situbundo, itu sudah berapa, belum pondokannya.) Belum lagi menejemen waktunya, paling tidak butuh staf yang harus “DIBAYAR” untuk itu. Apa sih isi ceramahnya? Ah, “HANYA” kupasan dari Al-Qur’an yang Allah turunkan gratis untuk manusia. Jadi, berbahagialah orang yang mampu membayar ulama dengan sangat pantas. Selain akan meningkatkan kualitas ceramahnya, meningkatkan taraf hidup keluarganya maupun orang yang membantunya, juga membantu agar proses Syiar bisa lebih banyak diterima orang. Kalau makin ngetop, kan makin banyak jemaahnya, ini berarti syiarnya makin berhasil. Contoh: A?a Gym.

Kalau anda mampu membayar konsultan, dokter, dan profesional lain mahal-mahal, padahal mungkin hanya memberikan kebahagiaan dunia yang hanya sementara, kenapa dengan ulama tidak? Padahal kebahagiaan yang diberikan itu dunia dan akhirat lho.

Uang.. Uang .. Uang .. Lagi.

Saya punya teman, orang keturunan, non muslim, punya percetakan dan banyak mencetak surat Yasiin untuk orang meninggal, itu isi Al-Qur’an. Ambil untung luarbiasa, biasa 300%, apalagi kalau hardcover, ada fotonya, itu bisa 500%. Apalagi dihiasi dengan sampul kain misalnya. Wah, harganya bisa 1000% dari harga normal. Ada yang mempermasalahkan? Ah, tidak ada itu. Al-Qur’an diperdagangkan? Jelas, ternyata Al-Qur’an diperdagangkan bahkan oleh non-muslim sekalipun. Nah, kalau kita kaji lagi lebih jauh, betul seperti janji Allah. Kalau Islam itu Rahmatan Lil `Alamin. Rahmat untuk dunia. Siapapun bisa mendapatkan barokah dari Allah, atas setiap firmanNya.

Nah, sekarang, bagaimana dengan ilmu hikmah? Yang sangat erat dengan pemanfaatan ayat suci Al-Qur’an untuk mengeluarkan kemampuan hikmahnya. Memperdagangkan Ayat Al-Qur’an? Ah, sekali lagi itu pertanyaan lucu, biasanya keluar dari orang yang sempit pikiran. Yang anda bayar bukan Al-Qur’an-nya. Tetapi ilmunya. Ya, ilmunya. Sama seperti periksa kedokter, yang anda bayar adalah ilmu sidokter. Sekolah, ilmu sipengajar, dsb. dsb. Bahkan saya merasa bangga, kalau ilmu hikmah ternyata bisa bermanfaat tidak hanya untuk muslim, tetapi juga non muslim. Ingat Rahmatan lil ?Alamin?

Memangnya seorang ahli hikmah itu memperoleh ilmunya gratis tidak bayar, keluarganya tidak perlu dihidupi, turun harta dari langit begitu saja? Bayangkan untuk mencari guru saja, butuh komponen biaya seperti transport, pondokan, biaya hidup selama ngelmu, dan yang terpenting jangan dilupakan, adalah salam tempel untuk sang guru, sebagai ucapan terima kasih atas ilmunya. Ini biaya lho. Belum lagi waktu yang dihabiskan untuk melayani kita yang perlu dengan si ahli hikmah tersebut. Kalau semua yang datang gratis, nah bagaimana si ahli hikmah itu bisa menghidupi keluarganya? Tidak ada uang, bagaimana si ahli hikmah itu bisa tenang dan mendo’akan pasiennya dengan baik? Nanti ngak manjur dong ilmunya. Itu baru satu sisi, eh kalau akhirnya kepepet ngak ada uang juga, kan bisa-bisa nipu juga, Astaghfirulloh!

Berburu ilmu sendiri itu, butuh biaya yang sangat besar, kadangkala bahkan diri kita bisa habis-habisan. Entah habis-habisan kena tipu guru palsu, atau juga habis-habisan untuk menutup biaya transportasi, hidup selama ngelmu dsb.

Padahal saya yakin, motivasi awal orang mempelajari ilmu hikmah yang umum polanya sebagai berikut : Senang dengan dunia spiritual. Senang membantu orang lain. Senang beribadah/riyadhoh karena Allah SWT. Atau kepepet punya masalah yang tidak bisa diselesaikan lewat cara biasa. Atau juga bisa untuk jadi jagoan. Dan seabrek motivasi lainnya.

Dan kalau dicermati lagi lebih seksama, tidak mungkin seseorang memiliki ilmu hikmah, kalau Ridho dan Barokah dari Allah tidak bersamanya. Tidak mungkin ilmunya yang mengandalkan ayat suci Al-Qur’an dan Asma-asma Allah itu menjadi manjur, kalau Allah tidak berkenan untuknya.

Kalau Allah saja mau menurunkan barokahNya kepada orang atau ahli hikmah tersebut, kenapa kita, manusia yang diciptakanNya, berprilaku seolah lebih tinggi dari yang menciptakannya? Masya Allah !!

Sekarang yang perlu dicermati adalah tinggal menguji dengan prinsip perdagangan, apakah ilmunya sesuai dengan yang dijanjikan atau tidak? Kalau tidak ya penipuan dong !! Ini yang harus kita berantas habis. Tetapi kalau benar dan teruji bagaimana? Ya harus kita berikan juga penghargaan yang selayaknya. Bukan begitu?

Jadi kalau ada yang bertanya kepada saya, situs Paranormal Indonesia ini menjurus kepada komersial? Saya jawab tidak dan ya.

Situs Paranormal Indonesia (www.paranormal.or.id) sama sekali tidak komersial. Bahkan saya harus menyediakan UANG untuk sewa hosting profesional yang tidak murah, meluangkan waktu menerima dan menjawab 100an email perhari yang ingin bertanya seputar dunia paranormal, kadang menyelenggarakan pelatihan spiritual gratis lewat Yahoo Messenger, termasuk chatting rutin setiap hari, menerima umpatan diforum dan buku tamu dari orang yang mungkin kurang mengenal visi dan misi situs ini, dan ingat untuk menjalankan itu saya mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk listrik, sambungan internet dan waktu berharga saya, juga membayar pihak lain yang menyediakan sistem content yang canggih seperti ini. Hargai juga tulisan-tulisan saya yang mungkin bisa menambah wawasan anda. Ya .. ?! Tetapi, dasar saya suka dengan itu, jadi ya Ikhlas 1000%. Mudah-mudahan anda memperoleh manfaat dari keberadaan situs ini.

Situs ParaJual (www.paranormal.or.id/catalog) ya komersial. Anda harus menghargai ilmu kami, jerih payah kami dalam memperoleh kemampuan tersebut. Dan, hey, kami garansi toh, bila ilmu tidak terbukti uang anda kami kembalikan penuh. Produk di ParaJual juga ada komponen biayanya, dan inilah yang harus anda bayar, kalau anda suka dengan produknya. Tidak suka ya tentu tidak harus bayar. Hukum jual belikan? Bagi yang membutuhkan, kebetulan kami ada, ya kami jual.

Terjadinya biaya seperti untuk bahan baku minyak dan sarana lain, membayar orang yang datang setiap hari untuk berdzikir (ini sebagai bentuk ucapan terima kasih karena mereka mau datang membantu, biar makin ikhlas dan ikhtiarnya diterima Allah, ya harus ada kasihnya dong), menyediakan makan dan minum mereka. Handling, seperti pengepakan dan mengantar kekantor pos, ongkos kirim dsb. (Hey apa yang anda beli, ternyata menghidupi banyak orang ya..)

Kenapa ada harganya dan tidak berdasarkan keikhlasan? Itukan pertanyaan lucu. Justru adanya harga memudahkan orang untuk membeli produk tersebut. Kalau hanya berdasarkan keikhlasan pembeli dan kami akhirnya rugi ini bagaimana? Atau pembeli bisa saja juga merasa rugi bila membeli barang yang menurutnya kemahalan.

ParaJual sesuai dengan namanya ya tempat jualan, e-shop. Dan harus memiliki fasilitas yang memudahkan penjualan. Dan kami harus bekerja keras agar bisa memberikan pelayanan yang terbaik dengan menyediakan berbagai fasilitas.

Tetapi bila anda membutuhkan pertolongan spiritual, tentu Webmaster-Bpk. Endah Indryono, dan teman-teman, akan IKHLAS membantu. Silahkan manfaatkan forum, email, telpon, atau bahkan datang langsung. Kalau kami bisa membantu, maka Insya Allah, akan kami bantu tanpa embel-embel apapun. Tetapi kalau berhasil juga harus diyakini, semuanya itu atas ijin dan kuasa Allah SWT. Amin.

Ingat, untuk melakukan syiar dan menyebarkan kebaikan, setiap orang punya metodenya. Begitupun kami disini. Ayo diskusi mengenai hal ini!

SHARE

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY