ANUGERAH ALLAH

    241

    Membahas dunia perdukunan atau keparanormalan, sepertinya tidak akan ada akhirnya. Pada kenyataan, kegiatan mereka makin semarak, terbuka dan gencar melalui berbagai media bak iklan restoran dengan sajian menu-menunya.

    Inilah salah satu fenomena di masyarakat yang tidak bisa dipungkiri dan hindari. Mereka termasuk bagian dari kehidupan “panggung sandiwara” yaitu DUNIA.
    Fenomena tersebut di atas adalah fenomena yang ada di luar kita, merupakan suatu aksi (STIMULI) sedangkan tanggapan terhadap stimuli itu adalah reaksi (RESPON). Respon ini diwujudkan dalam bentuk perilaku kita. Suatu stimuli yang sama belum tentu mendapatkan respon yang sama pula tetapi dapat menimbulkan respon yang berbeda.
    Contohnya krisis moneter, bisa menyebabkan orang jadi putus asa bahkan stress, tetapi bagi orang lain stimuli ini justru merangsang daya kreativitas dengan banyaknya bisnis baru yang bermunculan.
    Orang seperti inilah salah satu contoh manusia yang menemukan makna/hikmah dibalik suatu peristiwa.
    Jadi, kualitas seseorang bukan ditentukan oleh stimuli yang datang padanya melainkan oleh respon yang ia berikan terhadap stimuli itu. Dan respon itu jauh lebih penting dari stimuli itu sendiri. Antara stimuli dan respon sebenarnya ada jarak, ada ruangan dimana manusia dapat menggunakan kebebasannya untuk memilih. Dari kemampuan untuk memisahkan stimuli dan respon inilah salah satu kelebihan manusia dari hewan, juga merupakan kekuatan manusia.
    Allah berfirman:
    “Dan telah Kami tunjukkan kepadanya dua jalan” (S. Al-Balad 10)
    Artinya : kesatu jalan kebajikan, kedua jalan keburukan. Pilihlah dengan akal budi yang telah dianugerahkan Tuhan dan bimbingan taufiq, hidayah Ilahi jalan yang baik dan jauhi jalan yang membawa celaka.
    Nah, kembali pada fenomena di atas, sebagai manusia beragama kita harus bisa menyikapi, menentukan pilihan atau tidak sama sekali. Kalaupun sangat terpaksa dan menjadikan mudharat, apakah sistem yang dipakai benar-benar sesuai syari’at agama dan menjadikan kita lebih mengenal kebesaranNya dan mendekatkan padaNya atau sebaliknya?
    Kita adalah hasil keputusan kita bukan hasil dari kondisi kita. Jangan sampai kita terpedaya oleh sistem yang berkedok agama, terpesona menu-menu yang ditawarkan sehingga kita jadi dikuasai mereka dan mereka itulah yang menentukan tindakan dan respon kita dengan semakin bergantung pada mereka dan akhirnya secara tidak sadar mengKULTUSkan mereka. Syirik! pengkhianatan terbesar pada Allah.
    Allah berfirman:
    ” Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, yaitu mempersekutukan Dia dengan yang lain. Dia mengampuni dosa yang lain dari itu, bagi orang yang dikehendakiNya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sesungguhnya ia telah sesat jalan sejauh-jauhnya ” (S. An-nisaa 116)
    Jangan biarkan kondisi dan situasi kita menentukan/mengalahkan kita, kendalikan keadaan dengan memanfaatkan ANUGERAH terbesar dari Allah yaitu kemampuan berpikir dan tak melupakan untuk selalu diberi rahmat, taufik, hidayah dan lindunganNya. Amin.

    SHARE

    TIDAK ADA KOMENTAR

    LEAVE A REPLY