3 pertanyaan untuk sang Ulama.

444

Pada suatu pertemuan dalam suatu majlis, ada seorang jamaah yang berusaha untuk berpikir rasional dengan menanyakan kepada ulama, sang Guru 3 pertanyaan. Yang pertama, kalau Allah itu ada, bagaimana cara membuktikannya. Kedua, apa itu taqdir. Dan yang ketiga, kalau syetan dibuat dari api, apakah akan merasakan sakit bila disiksa dengan api neraka nanti?

Setelah lama terdiam, sang Ulama memanggil jemaah yang bertanya tadi, dan diminta untuk mendekat, dan ditamparnya pipi simurid.

“Guru, kenapa saya ditampar?,”tanya simurid.
“Itulah jawaban dari 3 pertanyaan kamu,” jawab siGuru santai.
“Maksudnya apa guru?”, simurid bertanya lagi dengan muka keheranan, sambil tangannya memegang pipinya yang tadi ditampar oleh sang Guru.
“Apakah kamu merasakan sakit, ketika saya tampar, kalau iya, jelaskan rasa sakit itu?”, tanya siGuru ganti.
Simurid terdiam bingung, bagaimana menjelaskan rasa sakit itu.
“Sulit kan? Sama, dengan merasakan keberadaan Allah. Allah itu bisa kita rasakan keberadaannya dengan iman, tanpa kita perlu tahu bentuknya, rupanya atau apapun, tetapi dengan hati yang bersih, keberadaan Allah sangat nyata dalam qolbu kita. Itulah jawaban dari pertanyaan kamu yang pertama.” Terang siGuru gamblang.
“Jawaban pertanyaan kamu yang kedua, saya ingin bertanya kepadamu, apakah kamu pernah membayangkan akan saya tampar, atau bermimpi sebelumnya atau dikasih tahu seseorang mungkin ?” tanya siGuru kepada simurid.
“Tidak guru.” Jawab simurid dengan lemas. “Nah, itulah yang disebut dengan taqdir, dimana hanya Allah yang tahu apa yang akan terjadi pada kita. Tanpa kita mengetahui apa rencana Allah terhadap diri kita. Artinya, kita senantiasa diminta untuk senantiasa meningkatkan ibadah, iman dan takwa kita hanya kepadaNya. Dengan senantiasa menjaga diri kita dari segala dosa, ketika taqdir itu datang kepada kita, maka kita tidak perlu lagi takut atas semua perbuatan kita. Itulah jawaban dari pertanyaan yang kedua.” Terang siguru panjang lebar.
“Kemudian, mengenai pertanyaanmu yang ketiga, saya ingin bertanya, coba pegang pipi kamu, bukankah terbalut oleh kulit, begitupun dengan telapak tangan saya, sama-sama terbalut kulit. Tetapi, bukankah kamu tetap merasakan sakit? Begitupun dengan azab dari Allah, walaupun sama-sama terbuat dari api, bukan berarti syaitan tidak akan merasakan azab neraka, bila Allah berkehendak, bahkan bisa saja azab yang diterima lebih pedih dari dugaan kita.”

Subhanallah, mudah-mudahan cerita ini dapat memberi hikmah bagi kita semua. Amin.

SHARE

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY