Ilmu Allah, bisakah untuk kejahatan ? (Bag. I)

648

Dalam suatu diskusi dengan teman-teman dikediaman saya, ada materi pembicaraan yang sangat menarik, apakah Ilmu Allah itu bisa untuk mengerjakan kejahatan?

Secara hakikat, memang harus kita imani, semua ilmu itu datang dari Allah. Karena Allah Sang Maha Pemilik Ilmu. Tetapi dalam turunya ilmu tersebut Allah berikan dalam 2 cara. Yang pertama tentunya turun dengan Ridho-Nya. Sedang yang kedua turun dengan murka-Nya.

Ilmu yang dalam prakteknya kita pergunakan untuk kebaikan, dan tidak bertentangan dengan norma2 agama, tentunya jelas Allah turunkan dengan ridhoNya, sehingga pengamal ilmu tersebut tidak hanya mendapatkan perlindungan dari Allah, juga mendapatkan pahala atas pekerjaanya tersebut.

Sedang pengetahuan dan ilmu yang kita pergunakan untuk menzolimi ciptaan2 Allah, perbuatan maksiat dan segala hal yang mengarah kepada dosa, tentunya juga akan Allah, turunkan, tetapi dengan murka-Nya. Jadi sang praktisi tidak hanya mendapatkan dosa atas perbuatannya, juga akan diberikan azab dunia, kubur maupun neraka kelak.

Bisa disimpulkan, bila ilmu2 maupun pengetahuan dari Allah, manusianya sendirilah yang menentukan, bagaimana cara turunnya ilmu tersebut, apakah dalam mengamalkan ilmu tersebut, kita senantiasa mengharapkan surga dari Allah, atau azab neraka jahanam.

Tetapi, sekali lagi saya senantiasa menekankan, bahwa dalam memperoleh ilmu Allah tersebut, maupun mempraktekkannya, tentunya tidak boleh bertentangan dengan nilai2 agama yang kita yakini. Sehingga akhirnya tidak saja menghindari fitnah, kita juga terhindar dari praktek2 menyesatkan dari syaitan yang senantiasa berusaha menjerumuskan kita.

Jadi pada pertanyaan awal, bisakah ilmu Allah digunakan untuk kejahatan, melihat hakikat ilmu diatas mungkin saja, mungkin bisa berarti benar juga bisa berarti salah. Banyak sekali, ilmu2 sekalipun yang bersumber dari Qur’an digunakan untuk kezoliman. Tetapi untuk melengkapi jawaban dari pertanyaan tersebut mari kita bahas sedikit mengenai KeMaha Sempurna-an dari Allah.

Silahkan lihat tulisan saya mengenai Warid Imdad (bahasan mengenai tasawuf). Sesungguhnya saya sangat meyakini, ilmu2 maupun pengetahuan dari Allah tidaklah turun kebegitu saja kepada setiap manusia. Tetapi merupakan proses riyadoh berkesinambungan yang akhirnya mendatangkan ilmu tersebut.

Artinya, manusia harus dapat mengkondisikan dirinya agar dapat menerima ilmu2 dari Allah tersebut. Riyadoh seperti berpuasa, berdzikir, sholat tengah malam, adalah upaya2 untuk membangun kesiapan diri; dengan proses pensucian diri maupun kesiapan secara mental spiritual; inilah yang akhirnya membuat diri kita bisa dan mampu menerima ilmu Allah tersebut.

Sedang ilmu Allah tersebut bersifat mutlak, dan tidak mungkin terkontaminasi. Sehingga ilmu Allah yang sampai kepada kita adalah apa adanya, dan melalui saluran yang bersih steril bebas dari kuman dan setan. Ilmu yang Allah turunkan bersamaan dengan ridho-Nya, tentu akan Allah jaga ketika sampai kepada diri manusia.

bersambung…

SHARE

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY