Perkara Pantangan dalam mengolah ilmu Hikmah

1857

Dalam suatu diskusi dengan salah satu netters Paranormal Indonesia yang datang kerumah Webmaster. Terjadi diskusi menarik mengenai pantangan dalam mengolah ilmu hikmah. Apakah pantangan seperti memakan buah tertentu akan menghilangkan ilmu kita ?

Diskusi ini menjadi menarik, karena setelah menjadi “pembina” saya hampir melupakan masalah pantangan ini, karena kebetulan semua pantangan yang saya berikan kepada peserta yaitu semua yang dilarang agama, tidak bertentangan dengan aqidah dan syareat.

Tetapi saya ingat dulu, dalam beberapa kali mengolah ilmu hikmah dari beberapa guru hikmah, Sang Guru, ada memberikan beberapa pantangan, seperti dilarang makan pepaya, atau makan tauge, makan buah semangka, pisang mas dll.

Tetapi, dalam diskusi itu saya jelaskan, bila pantangan-pantangan itu lebih kepada nilai filosofis belaka. Sedangkan yang bentuknya aqidah adalah mutlak.

Dalam memberikan pantangan-pantangan tersebut bisa dilihat dari beberapa hal :
1. Pantangan lebih bersifat “Kepatuhan” kepada Sang Guru. Jadi ridho guru dalam hal ini menjadi penentu keberhasilan kita dalam mengolah spiritual. Kadangkala Sang Guru, dengan senangnya karena kita patuh, ilmu-ilmu yang diturunkan bisa2 menjadi instan. Bahkan kadangkala ditularkan juga berbagai ilmu tanpa kita sadari. Jadi mematuhi pantangan merupakan “Ujian” yang paling utama dalam mengolah ilmu hikmah.
2. Pantangan bernilai filosofis. Contohnya dilarang memakan buah Pepaya misalnya. Pohon pepaya maupun buahnya sangat mudah sekali mengeluarkan getah. Bagi yang mengolah ilmu2 kesaktian khususnya kekebalan, biasanya ini menjadi pantangan utama. Nilai filosofisnya yaitu supaya kita tidak mudah luka, seperti pohon dan buah pepaya itu. Begitupun dengan yang lainnya. Dimana didalamnya terkandung nilai2 filosofi yang sangat tinggi. Dan untuk mengetahui setiap pantangan2 tersebut tentunya perlu dilakukan pemikiran mendalam.
3. Pantangan mengandung “Kelemahan” dari ilmu kita. Masalah ini jelas bukan? Orang yang dipantangkan untuk melakukan aktifitas atau diminta menjauhi hal2 tertentu, bisa jadi, itulah pantangan yang akan melemahkan bahkan menghilangkan ilmu kita. Jadi berhati2 dan selalu waspada dengan ilmu yang selalu kita terima dengan pantangan2 secara spesifik seperti ini.

Kenyataannya, dalam praktek nyata, pantangan2 ternyata “hampir” sama sekali tidak berpengaruh atas ilmu yang kita olah, asalkan ilmu tersebut kita “beli” dengan riyadoh seperti berpuasa, dzikir dan sebagainya.

Ilmu2 yang bersifat isian, kebanyakan sangat lemah dengan pantangan2 yang diberikan. Kenapa? Namanya isian tentunya tidak permanen, kecuali ada ritual untuk memeliharanya. Sehingga menghilangnya ilmu menjadi sangat mudah.

Sedangkan pantangan berbentuk Aqidah yang harus dilaksanakan rasanya lebih pas, dan mantap. Karena mendorong orang untuk senantiasa beribadah lebih baik, selalu berbuat baik, menghindari perbuatan dosa dan akhirnya menjadi berguna buat sesama, yang akhirnya membuat kita selamat dikehidupan dunia maupun akhirat kelak. Bukankan demikian ?

SHARE

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY