Tentang Imsak

158

Pada saat menjelang waktu sahur pada bulan ramadhan, kita biasanya mendengar adanya peringatan waktu imsak yang di dengungkan, baik di masjid – masjid , radio maupun televisi. Kebiasaan yang sudah membudaya di kita.
Apa kah itu imsyak dan adakah syariat yang membolehkannya…?

Ada sebuah hadist
” Jika salah seorang di antara kamu mendengar Adzan sedangkan ia masih memegang piring( makan ), maka jangan lah ia meletak kan sehingga ia menyelasikan makannya..”
( HR Imam Ahmad, Abu Daud, Hakim dan di shahih kan oleh adz Dzahabi )

” Pada waktu iqamah di kumandangkan, Umar masih memegang gelas. Umar bertanya ke pada rasulullah; ” Apakah saya masih boleh minum ya Rasulullah ? ” Beliau menjawab; ” Ya ( BOleh ). Kemudiam Umar pun minum. ( HR Ibnu Jarir 3/527/3017 )

Di riwayat kan dari Syuhaib bin gharaqah al Bariqi dari Hibban bin Harist ia berkata “Kami pernah makan sahur bersama Ali bin abi thalib RA, maka takala kami telah selesai makan sahur, Ia menyuruh muadzin untuk iqamat.( shalat ) ( At Thahawi dalam syarah al ma’ani 1/106 dan Al Muhlis dalam Al Fawaid al munthaqah 8/11/1 )

Dari Anas bin malik dari Zaid bin Tsabit RA berkata ” Kami makan sahur bersma Rasulullah kemudian beliau bangkit untuk shalat shubuh. ” Anas berkata; ” aku bertanya kepada zaid: berapa lama zarak antara sahur dan iqomat? ia menjawab : Kurang lebih membaca lima puluh ayat. ( HR Bhukhari 1801, muslim 1097)

Hadist ini menerang kan kebiasaan Rasulullah sahur menjelang shalat setelah Adzan di kumandangkan. Oleh karena itu setelah makan Beliau bangkit untuk shalat subuh
Jadi kesimpulannya tidak adanya waktu imsak dalam syariat islam, dan kita di perbolehkannya makan dan minum hingga iqamat di kumandangkan.
Seperti yang di maksud ayat AL Baqarah 187 ” makan dan minum lah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam , yaitu fajar ( AL Baqarah 187)

Ayat ini menerangkan dengan jelas batasan Sahur yaitu terangnya cahaya fajar.

SHARE

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY