Mengajak Beribadah dengan berbagai Cara

432

Masyarakat umum sangat majemuk, berbeda tingkah laku, pola pikir, maupun kemauan. Mengajak seseorang untuk beribadahpun bukanlah perkara mudah dalam praktek keseharian di dunia modern sekarang ini. Bahkan sesungguhnya sejak jaman dahulu kala pun demikian. Ada ungkapan, “Berbicara lebih mudah daripada melaksanakan.” Nah, ungkapan tersebut rasanya menjadi tepat melihat banyaknya “ustadz kagetan” yang tahu-tahu menjadi “seolah pintar” tanpa punya massa (dibaca santri atau murid) yang cukup maupun kesempatan secara riil dilapangan, tahu-tahu bisa mengomentari suatu pola perbuatan seseorang.

Saya pribadi memiliki pandangan sendiri juga tentunya, karena menurut saya Islam sangat menarik dan “tidak ada habisnya” untuk dicermati, dicari peluang-peluang hikmahnya dsb. Dan yang paling penting sesungguhnya Islam sangat fleksibel dalam menyiasati seluruh ummat yang ada dimuka bumi ini agar dapat beribadah secara lebih baik kepada Tuhan yang Maha Esa.

Saya punya pengalaman pribadi yang mungkin cukup menarik untuk ditelaah lebih jauh.

Ketika itu disaat peristiwa 13-14 Mei di Jakarta, dimana terjadi peristiwa yang menghebohkan dengan penjarahan besar-besaran di daerah pecinan kota, diikuti dengan aksi anarkisme dan perbuatan-perbuatan amoral yang dilakukan oleh sekelompok massa terhadap golongan minoritas yang dari keturunan Cina.

Entah tahu dari mana, tiba-tiba datang serombongan keluarga keturunan terdiri dari suami istri dan 2 orang anaknya datang kerumah saya. Mereka minta ilmu kebal untuk perlindungan keselamatan, dan memohon agar rumahnya dibuatkan “pagar” agar terhindar dari jarahan masyarakat umum.

Karena saya kasihan akhirnya mereka saya “pinjami” dengan salah satu ilmu hikmah keselamatan, yang dapat memberikan efek kekebalan bagi pemegang awrad-nya. Waktu itu saya bilang, “Ilmu ini tidak permanen, jadi nanti 40 hari lagi kalau masih butuh yaa… harus datang lagi. Kalau mau permanent, kalian harus menjalankan ritualnya. Mengenai pagar untuk rumah, Insya Allah tidak diperlukan, karena ini sudah mencukupi.”

Ada salah satu putranya, masih SMU, bilang ia tertarik untuk menjalankan ritualnya dan minta dibimbing untuk itu. Saya bilang, sebetulnya ritualnya sederhana, hanya mewiridkan salah satu ayat suci Al-Qur’an, tetapi dilaksanakannya hanya setiap selesai sholat fardhu. Akhirnya sianak ingin mencoba, terpaksa diadakan kursus kilat untuk sholat, sambil saya berikan buku petunjuk sholat.

Lewat 3 hari kemudian, kali ini datang rombongan besar terdiri dari 34 orang kerumah saya dengan maksud yang sama dengan keluarga tadi.

Sikeluarga yang pertama menceritakan bagaimana “sempat” merasakan kekebalan yang saya berikan ketika terpaksa menghadapi sekelompok orang dijalan TOL, dimana ia dipaksa turun dan kepalanya dibacok dengan golok. Anehnya, kata sibapak tadi, ia tidak merasakan apa-apa, bahkan sewaktu beradu dengan golok, kepalanya seperti memancar percikan api. Dan yang lebih aneh lagi, tahu-tahu kelompok orang tadi seperti tidak melihat si Bapak, dan pergi meninggalkannya begitu saja.

Cerita yang kedua dari pengalaman selama 3 hari tidak ketemu adalah keanehan yang terjadi dirumahnya. Keluarga itu melihat dengan ketakutan bagaimana tetangga-tetangga mereka dimasuki sekelompok orang yang berusaha menjarah, bahkan terdengar teriakan-teriakan memelas dari para tetangganya tersebut. Tetapi rumah mereka sama sekali tidak disentuh oleh kelompok tadi, bahkan digedor-gedorpun tidak. Nah, berbekal pada pengalaman pribadi mereka itulah, akhirnya mereka menceritakan kepada saudara dan sobat-sobat mereka akhirnya mereka itulah yang datang ketempat saya.

Cerita pertama terulang kembali, tetapi kali ini jumlahnya cukup banyak. Dan akhirnya demikianlah setiap harinya saya memberikan ilmu hikmah keselamatan kepada kelompok minoritas tadi.

Singkat cerita, akhirnya ada satu dua orang yang datang ketempat saya minta agar di Islam-kan, menurut mereka begini, “Saya betul-betul takjub dan merasa tersentuh, ada agama yang dapat memberikan rasa aman yang demikian ini kepada saya dan keluarga.” Karena saya merasa masih “kurang”, akhirnya mereka saya ajak ke Masjid Agung Sunda Kelapa.

Akhirnya total dalam 1 bulan itu ada 128 !! Warga keturunan yang akhirnya masuk Islam. Alhamdulillah.

Cerita diatas bukannya saya sedang berpromosi, karena saya tidak praktek paranormal atau sejenisnya, tetapi silahkan telaah hikmahnya, karena ada lagi pengalaman lain, dan ini sehari-hari yang saya lihat.

Dalam beberapa bulan ini, saya banyak membantu di NurSyifa’ pimpinan HM. Bambang Irawan S. Ada diantara pasien yang saya lihat sudah “parah-parah”. Baik dari segi penyakit maupun mentalnya.

Bahkan ada diantara mereka yang tidak pernah sholat sama sekali, padahal mengakunya muslim. Dan celakanya, mereka yang “kurang” itu justru dari kelas menengah atas, kebanyakan karyawan atau bahkan ada diantaranya yang diketahui merupakan top eksekutif diperusahaan ternama.

Bisa dibayangkan, mereka bekerja, mengambil keputusan, tanpa dilandasi aqidah Islam !! Masya Allah ! Pendekatan yang dilakukan di NurSyifa’ yang pertama sekali, yaitu berusaha mendekatkan mereka dengan Tuhan, lewat dzikir. Ini dilakukan sebelum pasien diterapi atau mulai konsultasi, tidak pandang bulu, setiap yang datang di NurSyifa’ wajib dzikir. Bahkan dalam masa terapi berlangsung, pasien diwajibkan untuk dzikir dalam jumlah sampai 1.000. Dan diwajibkan juga untuk sholat tengah malam. Ini untuk mempercepat proses penyembuhan mereka.

Dan anehnya, ini benar-benar aneh ! Mereka biasanya bersedia tanpa banyak berkomentar, dan menjadi pasien setia untuk jangka waktu tertentu, bahkan mereka ikut dalam setiap kegiatan yang diadakan di NurSyifa’.

Menurut mereka cara seperti ini, memberikan rasa tenang secara bathin. Dan akhirnya memberikan keyakinan akan kuasa Tuhan. Dan mereka juga sangat yakin dengan mendekatnya mereka kepada Tuhan, otomatis segala hajat mereka menjadi lancar.

bersambung…

SHARE

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY