Bag. I Perkembangan Tareqot Ar-Rifa’i di Indonesia.

323

Pada beberapa kesempatan, Webmaster kita menunjukkan kebolehannya dalam mengolah kekebalan, walaupun dengan tegas juga beliau bilang ini bukan bagian dari pamer tapi untuk menunjukkan kekuasaan Allah melindungi umat yang dekat denganNya, yaitu dengan mengamalkan tareqot; jalan untuk dekat dengan Allah. Yaitu Tareqot Ar-Rifa’i. Akar dari kesenian Debus.
Akhirnya beliau meminta saya untuk mencari tulisan-tulisan mengenai perkembangan Rifa’i di Indonesia.

Webmaster kita, Bapak E. Indryono, mendapatkan ijazah tareqot ini dari Kyai Jayusman dari Serang, yang tinggal di Kebon Jeruk Jakarta. Dan kegiatan tareqot ini masih terus dilaksanakan dibawah Yayasan Al-Fatah. Tetapi karena cara penisbatan/pengangkatan anggota tarekot yang cenderung tertutup dengan ujian-ujian berat, perkembangan tarekot ini relatif lambat.

Sedangkan kyai Jayus sendiri mendapatkannya dari Kyai Kilon dari Banten yang nasabnya sendiri adalah Nawawi Al-Bantany, pemilik ijazah Ar-Rifa’i. Murid lain dari Kyai Kilon adalah Kyai Gufron dari Paneleh dan H. Idris, banten yang masih mempraktekkan kesenian Debus sampai sekarang, juga Ajengan Ubad, dari Sukabumi, yang mempraktekkan penyembuhan/pengobatan alternatif, dan diteruskan oleh putra-putranya.

Pemaparan konsep tareqot yang disampaikan oleh Webmaster kadang agak “aneh” buat telinga orang Syareat atau Pengamal Tareqot lain seperti dari Qodiriyan wan Naqsabandiyah, tetapi melihat latar belakang “kependekaran” dari E. Indryono ini, dimana konsep ilmu-ilmunya mengakar pada golongan ilmu kedigjayaan, tentu bisa dibilang cukup Netral dilihat dari dua sudut pandang yang berbeda.

“Saya agak bingung dengan adanya pemikiran mengenai tingkat pengetahuan dalam menjalankan tareqot. Pencak Karomah itu kan dasarnya dari Tareqot Qodiriyah, dimana ada salah satu do’anya kita memohon karomah sang wali tersebut agar dapat menurunkannya kepada kita. Jadi ada pengamal tareqot lain yang tersinggung dengan dimuatnya tulisan mengenai kabel sambung milik Syaikhnya dimuat disini. Padahal, pengetahuan itu dipakai diperguruan-perguruan silat, maupun pesantren-pesantren yang menurunkan semacam ilmu karomah. Juga tulisan mengenai wawasan ke Islaman itu kan ya milik umat Islam dong.., kalau memang merupakan ajaran rahasia, tentunya tidak diterbitkan dan disebarluaskan.”

Kontoversi memang sering diangkat oleh E. Indryono ini, tetapi maksud beliau adalah agar ini dapat dijadikan wacana dan “bisa diperdebatkan” agar kita dapat lebih terbuka menerima perbedaan pandangan.

Masuknya Tareqot Ar-Rifa’i di Tanah Air
Menurut tulisan Imron Arifin, tareqot ini awalnya dibawa oleh Syaik Yusuf Tajul Kholwati dari aceh yang akhirnya menetap di Banten. Dimana Syaik Yusuf menikah dengan putri Sultan Banten, dan akhirnya menjadi penasehat kesultanan. Permainan Almadad, yaitu besi runcing yang ditempelkan diperut kemudian dipukulkan dengan menggunakan martil, ditemukan dibekas kesultanan, menunjukkan bahwa benar debus yang merupakan kembangan dari pengamal tareqot ini pernah ada di Banten.

Sedang ciri tareqot Rifa’i yang utama adalah permainan rebana dan cara-cara yang terbilang aneh, yaitu dengan melukai diri sendiri. Seperti berjalan diatas pecahan kaca; ini istilahnya dabus; menjilat api dan menusukkan dirinya dengan benda-benda tajam, bahkan ada yang memakan pecahan kaca.

Cara-cara ini untuk menguji sampai dimana tingkat kefanaan kita, sehingga dengan lepasnya kita dari alam dunia; proses ekstase; mendatangkan kekuatan Allah yang maha dashyat yang tidak dapat dilakukan ketika kita tidak dekat denganNya.

SHARE

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY