Bag. III : Mudahkah menjadi Paranormal ?

341

Dari tulisan sebelumnya kita sudah dapat membayangkan betapa “mudahnya” menjadi paranormal yang sesungguhnya.
Pada saat ini “image” mengenai paranormal telah mulai sedikit demi sedikit, terkontaminasi oleh ulah “paranormal muda” yang merasa memiliki cukup ilmu atau “paranormal tua” yang mencari kesempatan; untuk “berkiprah” di dunia nyata.

Dengan sedikit bermodal “doa” atau “mantra ampuh” telah dengan sangat yakin mampu melaksanakan apa yang menjadi “niat” pasiennya. Walaupun kadang doa atau mantra yang didapat hanya bermodal dari kitab muzarobat yang bisa dibeli dipinggir jalan. Atau karangan belaka, yang “siapa tahu muzarab.”

Sekali lagi tingkat kewaskitaan seseorang membutuhkan “waktu”. Entah itu berupa karunia; diistilahkan dengan “tiban”; yang didapat dengan tidak mempelajari, apalagi yang memang khusus mempelajari.

Bahkan orang yang “tiban” sekalipun butuh waktu untuk mengenal “diri”-nya (dibaca: ilmu). Kemudian menggali cara-caranya, sehingga akhirnya dapat mendarmabaktikan dirinya untuk masyarakat umum.

Saya termasuk yang telah “ngakar” dengan ilmu kebatinan; bukan dengan maksud takabur; lingkungan keluarga yang sangat sekuler, dimana orang tua sering mengundang “orang pintar” seperti Kyai, Ajengan dan yang sebangsanya untuk memberikan siraman rohani, ataupun pemahaman mengenai konsep kehidupan. Sewaktu berumur 7 tahun, saya telah menguasai “Pencak Karomah” yang diturunkan oleh seorang Kyai dari Sukabumi, beliau telah almarhum. Melakukan lompatan-lompatan dengan tenaga “karomah” sampai kewuwungan rumah adalah kegiatan setiap hari yang terus saya laksanakan sampai remaja.

Saya bahkan sudah tidak ingat lagi, berapa “guru” yang telah diundang oleh orang tua dimana mereka telah secara halus “memasukkan” ilmu kedalam diri saya, pada waktu menjelang remaja tersebut, dan butuh waktu 20 tahun lebih untuk menyadari hakikat diri dari pencarian dan pematangan yang panjang tersebut.

Maksud dari cerita mengenai diri saya diatas adalah merupakan ilustrasi, bagaimana umur, persiapan pematangan begitu berperan dalam mematangkan pengolahan kebatinan. Dan terlihat bila peran “GURU” menjadi sangat penting dalam pencapaian ketingkat yang lebih tinggi lagi.

Sekali lagi juga, berbeda dengan Pendekar, seorang paranormal; menurut saya; membutuhkan lebih banyak “pengetahuan” (dibaca: Ilmu) yang komplit dan jelas untuk bisa mendarmabaktikan kemampuannya. Maksudnya bila seorang paranormal menguasai ilmu pelet, maka ia harus dapat membuktikan keampuhannya, bukannya dengan cara “untung-untungan” kalau gagal malah menyalahkan sipasien dengan 1001 macam alasan yang dibuat-buat.

Disinilah ukuran tingkat kewaskitaan teruji.

Pada tulisan ini saya tidak membahas hitam-putih. Atau dogma-dogma beragama, karena dalam kenyataan prakteknya, seseorang yang mempelajari ilmunya secara islami ataupun bukan, bukan berarti ia telah menjadi golongan putih atau berilmu putih atau sebaliknya. Tetapi lebih mengarah kepada prilaku orang tsb, mengaplikasikan ilmunya. Contohnya: ilmu-ilmu seperti untuk kekebalan yang diambil dari doa-nya nabi Daud, ritualnya adalah sangat Islami sekali. Tetapi dari banyak penjahat2 yang kebetulan saya kenal, bahkan ada seorang dari teman saya sewaktu sama-sama belajar dipesantren, ternyata mengaplikasikannya untuk kejahatan. Untuk pekerjaan seperti merampok dsb. Astagfirullah.

Sebaliknya ada juga sahabat saya yang mengolah keilmuanya dengan cara kebatinan (aka. kejawen), bahkan dengan ritual yang jauh dari syareat dan aqidah Islam, ternyata malah begitu dihargai oleh masyarakat, termasuk masyarakat muslim, ditempat ia tinggal. Dimana ia mendarmabaktikan kemampuannya untuk masyarakat dengan ikhlas dan bertanggungjawab.

Bersambung ke Bag. III

SHARE

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY