Bag II: Mudahkah menjadi paranormal ?

319

Menjadi paranormal; entah dari golongan hitam maupun golongan putih, kalau istilah ini memang ada, membutuhkan “lelaku” dan prilaku yang sesuai. Artinya konsep paranormal membutuhkan sesuatu untuk bisa dapat dikatakan paranormal, entah berupa anugerah serupa “dukun tiban” atau melalui proses disiplin tertentu.

Seorang yang dikatakan waskita membutuhkan proses panjang dalam pengolahan batinnya. Sehingga sebagian besar guru yang bijaksana menganggap umur memiliki peran penting dalam pematangan jiwa. Memasuki umur 40 tahun dianggap waktu yang ideal untuk mempraktekkan kewaskitaanya, sedangkan sebelumnya dianggap masih dalam pembelajaran.

Berbeda dengan menjadi pendekar, yang membutuhkan latihan fisik dan bila fisik dan keahlian tempur telah mencukupi bisa “turun gunung”. Menjadi paranormal cenderung mencukupi keahliannya dengan cara mengolah jiwa, berkonsentrasi pada satu hal dan hal lain yang semacamnya, dimana intinya adalah penguasaan roh atau jiwa.

Para ahli hikmah menempuh cara kesufian untuk meningkatkan kualitas batinnya, sedang golongan lain cenderung melakukan ritual-ritual kebatinan tergantung dari daerah mana ia belajar, ini untuk meningkatkan penguasan dirinya.

Kenapa penguasaan diri menjadi parameter utama untuk menjadi paranormal? Karena memang inilah kunci untuk mempelajari ilmu kebatinan. Orang yang telah menguasai dirinya cenderung mudah menyerap apapun yang dipelajarinya. Sehingga istilah tahapan mencapai “Makrifat”, buat ahli hikmah, atau “Rasa Sejati” buat kejawen atau “Pencerahan” buat golongan yang lainnya lagi, dianggap sebagai puncak ilmu kebatinan, dimana diri kita telah lepas dari nafsu-nafsu materialistik keduniaan.

Masuk menjadi “Golongan Putih” atau menjadi “Golongan Hitam” sama saja proses yang dibutuhkannya. Begitupun waktu pelatihannya.

Kalau menurut saya, dari segi waktu, kemudahan, maupun keamanan (ini yang paling penting) proses pembelajaran lebih mudah melalui pendekatan cara Islami ketimbang cara-cara yang non-Islami dalam pengolahan batinnya. Cara Islami melalui pendekatan keimanan kita terhadap Allah. Jadi dengan meningkatkan intensitas keimanan kita terhadap Allah, secara tidak sadar kita juga meningkatkan kualitas kebatinan kita. Artinya penguasaan diri maupun “tingkat ilmu” seiring dengan keimanan kita. Ini yang paling aman.

Saya pribadi juga pernah mengerjakan ritual-ritual seperti mengerjakan “kum-kuman” cara kejawen, yaitu berendam ditengah sungai dengan air yang mengalir dengan cara bertelanjang bulat, sambil (maaf) dubur ditutup. Dan dilakukan menjelang tengah malam sampai hampir fajar menyingsing. Mengenai kenapa “itunya” harus ditutup ternyata untuk mengatasi hawa dinginnya air, dimana dengan ditutup perut menjadi hangat dan akhirnya tubuh terbiasa dengan dingin. Cara ini membutuhkan “nyali” yang cukup, karena kali pertama, saya terpaksa harus bangun dan lari terbirit-birit mempermalukan diri, karena ada ular berenang mengambang menghampiri saya. Belum lagi ada resiko “ular” kita juga bisa dicaplok ikan besar, karena disangka makanan enak, he..he..he.., belum lagi dinginnya yang luar biasa, brrr…..

Jadi, sekali lagi dari tingkat aman, rasanya cara Islami adalah yang paling aman, apalagi bagi yang “nyali”-nya kecil…

Ada orang yang bilang dasar-dasar ilmu kebatinan, khususnya kejawen, kualitas maupun level kebatinannya, lebih tinggi ketimbang yang bersumber dari Islam. Bisa saja betul, juga bisa salah.

Tetapi memang dilihat dari proses pembelajarannya, cara kebatinan memang lebih “cepat” melihat dari ritualnya yang “keras” itu. Seperti melalui kum-kuman, ternyata hikmah yang ada dibelakangnya juga banyak.

Yang pertama, adalah kita dipaksa untuk “menguasai” diri, dari perasaan takut, fisik (seperti mengatasi hawa dingin) dan juga jiwa. Disana kita dilatih untuk “melepaskan” diri dari unsur materialistik duniawi, dan “menyatu” dengan alam, seolah kita bagian dari alam itu sendiri. Bagi yang sudah biasa menjalankan kum-kuman ini, ternyata adalah proses yang menyenangkan dari pengolahan diri dan batin karena ada 3 unsur yang dilatih, yaitu fisik (dari dingin dan dorongan arus air), mental (melatih menguasai kondisi emosi) dan spiritual (mengolah ilmu yang dipelajari). Karena kondisi “keterpaksaan” tersebut akhirnya malah menguntungkan buat pengolahan batin secara umum.

Belum lagi ritual-ritual lain yang cukup berat seperti “Semedi” ditempat yang dianggap “keramat” seorang diri, (hi.., kalau ngak kuat bisa ketemu setan jahil), atau “ngalong” menggantung diri, dengan kepala dibawah, yang semuanya itu pada intinya adalah kondisi “pemaksaan” yang tujuannya mempercepat kualitas kebatinan dan penguasaan diri dari sipelaksananya.

Cara kebatinan terkesan lebih “simple” dalam mendapatkan suatu ilmu, karena tidak ada wirid yang jumlahnya sampai ratusan ribu yang harus dikerjakan, atau secara rutin bangun tengah malam untuk mengerjakan sholat tengah malam.

Mendapatkan ilmu secara kebatinan cukup “ucap” dari seorang guru kebatinan, yang diikuti dengan ritual yang harus dikerjakan saja, dimana selama ritual, pikiran harus terpusat hanya pada hal yang kita inginkan, setelah itu dengan sendirinya ilmu akan “terduplikat” dari sang guru kepada muridnya.

Bila kebetulan, kadang-kadang ilmu-ilmu langka seperti melemaskan besi dari para empu (ini bisa dipakai untuk merubah luk pada keris, atau untuk bongkar teralis besi rumah orang), bisa diolah hanya dalam satu malam saja.

Begitupun pertemuan dengan para makhluk gaib, cara-cara kebatinan juga cenderung mudah untuk pelaksanaannya. Tetapi sekali lagi, ini untuk orang yang telah memiliki “nyali” yang cukup.

Inti dari semuanya adalah, juga sekali lagi, penguasaan diri adalah sesuatu yang mutlak untuk mengolah suatu ilmu, baik dalam proses pembelajaran maupun pengaplikasian dalam kehidupan sehari-hari.

Tulisan selanjutnya, saya akan membahas mengenai cara Islami VS Kebatinan.

Bersambung ke Bagian III.

SHARE

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY