Bag. I Mudahkah menjadi Paranormal ?

356

Paranormal, sebagai manusia yang diindentikkan dengan manusia super yang memiliki kemampuan diatas rata-rata manusia biasa, mumpuni, bahkan terkesan sangat sakral. Ditambah dengan popularitas “status” menjadi paranormal yang saat ini bisa “menjamin” hidup, akhirnya banyak orang berusaha menjadi paranormal.
Mencari “kesempatan dalam kesempitan” akhirnya orang-orang yang berpikiran “cemerlang” berusaha memanfaatkan hal ini menjadi “bisnis” menggiurkan dengan membuka “sekolah” paranormal sekaligus menjadi paranormal.

Sebelumnya saya mohon maaf bila ada pihak yang tidak berkenan, tulisan berikut bukan untuk merubah image tetapi berusaha memberikan gambaran pada khalayak.

Sebetulnya tidak ada yang salah dengan hal ini, sebagai “bisnis” tentunya harus dapat bersaing baik secara kualitas maupun kuantitas.

Maksudnya kualitas disini adalah “kemasan” ilmu yang ditawarkan harus lebih baik dari yang lainnya, sedangkan dari segi kuantitas; untuk pengejaran target pemasukkan; waktu belajar yang relatif singkat.

Akhirnya praktek “menipu”; halusnya merekayasa; tidak dapat dihindari. Banyak demonstrasi-demonstrasi yang mengandalkan kepada trik belaka; bisa dilihat pada kolom “Trik paranormal”; Karena dengan “ilmu” sesungguhnya, sangat sulit yang dapat melakukannya. Walaupun akhirnya, setelah rahasianya terbongkar, mereka bilang ini hanya kesenian belaka yang harus dilestarikan.

Akibatnya orang-orang yang tergabung dalam kelompok tersebut, telah terjebak dalam praktek penipuan, bahkan bisa dikatakan sebagai “kelompok penipu” profesional, seperti layaknya tukang sulap. Yang dengan terpaksa mereka harus meneruskan sandiwaranya untuk menjaga “status” yang telah mereka sandang. Kasihan. 🙁

Apalagi dengan yang namanya ilmu “instant”, dengan alasan zaman sekarang semuanya serba instant, maka akhirnya orang-orang yang terjebak dengan “iklan” yang ditawarkan, akhirnya “Instant” juga ketipunya, he..he..he…

Tetapi, kiranya perlu disikapi dengan bijaksana memang, tidak semua, sekali lagi, tidak semua “orang pintar” seperti itu. Mereka yang bergerak tanpa “iklan” lebih patut kita hargai, ketimbang yang “jor-joran” beriklan, mereka inilah yang akhirnya mendapat julukan “Paranormal Iklan”.

Pada bagian tulisan selanjutnya akan saya gambarkan sebagian proses sesungguhnya dari “Mudahnya” menjadi paranormal. Bersambung ke bagian II

SHARE

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY