Bag. V: Babad Sunda

407
Batu Tulis Bogor
Batu Tulis, peninggalan Tarumanagara, dari abad V

GUNUNG JATI
Walangsungsang mohon pamit hendak meneruskan mencari agama Islam serengat Jeng Nabi Muhammad. Ki Pedenta berkata, “Hai putra, datanglah di gunung Jati Syekh Nurjati namanya, asal dari Mekah, yang sedang bertapa tidur dialah yang mempunyai agama Islam sarengat Jeng Nabi Muhammad.”

Walangsungsang segera pamit menuju gunung jati, datang sudah di hadapan Syekh Nurjati. Sang istri dan Sang adik lalu dikeluarkan dari cincin Ampal disuruh sujud menghaturkan hormat. Ki Syekh Nurjati segera terjaga melihat tiga orang tamu. Sambil senyum ia berkata, ” Hai tiga orang muda di hadapanku dengan memberi hormat, apa kemauan kalian, asal dari mana, nama kalian siapa?”

Berkata Walangsungsang, “Hamba hendak berguru agama Islam serengat Jeng Nabi Muhammad, bersama adik kandung Rarasantang, Putra Pejajaran, adapun istri hamba Indangayu namanya, putri gunung Maraapi Sanghyang Danuwarsih, hamba bernama Walangsungsang.”

Syekh Nurjati berkata, “bagai mana mulanya orang Budha dan putra Raja menghendaki Islam dan dapat petunjuk dari siapa tahu kepada gunung jati?”

Walangsungsang menceritakan sesungguhnya lantaran mau Islam dari awal hingga akhir. Ki Syekh segera memberi wejangan kepada ketiga putra ngucapkan sahadat kalimat dua, shalawat dan zhikir, jakat fitrah, dan naik haji, puasa bulan romadhon, salat lima waktu dan diwejang Qur`an. Kitab fikih dan Tasawuf, sudah dipatuhi semua apa yang di wejangkan dan diperintahkan oleh guru.

Walangsungsang, Indangayu, Rarasantang sudah lama olehnya berguru, suhud sekali, tetap patuh kepada guru, Ki Syekh memanggil, “Walangsungsang aku beri nama Somadullah.” si bapak tidak punya anak dan kawan, sekarang kamu tiga orang aku akui sebagai anak, serah jiwa raga dan tempat, engkau aku beri nama Cakra bumi.”

Somadullah menerimanya. Sekarang sudah diangkat anak, dan setelah datang pada waktunya pagi hari ahad lalu ia memasuki hutan rawa belukar menebangi pepohonan besar kecil tiap hari, lama olehnya ia babad/membuka hutan yang sudah lapang lalu ditanami palawija membangun perkebunan. Kaki Tua melihat hutan sudah lapang dan banyak ditanami palawija ia suka cita sekali Cakrabumi disuruh mengkap ikan dan rebon diberi waring/jala, sudu/alat penangkap ikan dan jakung/perahu kecil.

Cakrabumi mematuhi perintah Kaki Tua, tiap malam berkendaraan jakung itu pergi menangkap ikan dan rebon (rebon = sebangsa udang kecil), paginya membabad hutan.

SHARE

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY