Bag. IV : Babad Sunda

821
Padrao Sunda Kelapa
Padrão Sunda Kalapa (1522), sebuah pilar batu untuk memperingati perjanjian Sunda-Portugis, Museum Nasional Indonesia, Jakarta.

GUNUNG CANGAK
Sanghyang Naga berkata, “Engkau sekarang pergi bergurulah ke gunung cangal di situ engkau akan dapat petunjuk perihal agama Islam, namun diakali dulu Ratunya Bangau hingga sampai tertangkap.”

Setelah sebulan lamanya Walangsungsang mohon pamit segera menuju ke gunung Cangak.

Diceritakan yang berada di gunung Cangak dipohon beringin besar rombongan burung-burung bangau banyak sekali berhinggap. Walangsungsang terheran-heran melihat sedemikian banyak burung bangau berseliweran dan bingung mana yang jadi Ratunya. Segera ia memakai peci waring dan mengeluarkan kesaktian sebuah wadah yang berisikan ikan deleg di dalam wadah/perangkap lalu dipatuknya.

Cepat Walangsungsang menagkap leher Sang Nata Banagau sambil diancam dengan Golok cabang di atas lehernya. Sang Nata Bangau berteriak tolong-tolong minta hidup, “nanti anda akan beri pusaka warna tiga panjang, pendil, bareng/bende.”

Lalu Sang Nata Bangau dilepaskan lalu ia terbang sambil berkata, “Hai manusia susulah aku di puncak gunung inin yang berada di pohon beringin.”

Walangsungsang segera menyusul, Sang Nata Bangau lenyap setelah datang di pohon beringin di puncak gunung itu. Walangsungsang kebingungan. Tak lama kemudian hilanglah ujud pohon beringin itu salin rupa menjadi sebuah kraton yang indah sekali.

Walangsungsang sedang melongo keheranan melihat ada kraton, tak lama lalu ada 40 orang anak-anak bule yang menghidangkan jamuan sambil menyilahkannya duduk di sebuah permadani emas. Walangsungsang sedangnya enak duduk sambil makan minum tak lama kemudian datanglah Sang Pendeta Luhung duduk sejajar.

Walangsungsang berkata, “Hai pendeta, anda siapa yang bertemu di hadapan menjadikannya terkejutnya hatiku?”

Ki Pendeta menjawab, “Sanghyang Bangau namaku yang membangun kayuwangan di gunung Cangak,fardhu memenuhi janji memasarkan jimat pusaka yang warga tiga, ialah panjang, pendil, dan bareng/bende. Piring panjang berwatak tidak diisi lagi lalu mengisi sendiri lengkap segala-galanya, nasi kuning, lauk pauk selalabnya dan sejuk pribawanya kepada kawula warganya, cukup sandang, pangan, papan, pendil berwatak kalau dikeruk nasinya bisa untuk memberi memberi makan dua tiga negara.Bareng/bende wataknya keluar air banjir, suaranya membingungkan musuh.”

Diterima sudah jimat yang warga tiga. Walangsungsang mengucap terima kasih dan berguru kepada Pendeta sebulan lamanya.

SHARE

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY