Bag. III : Babad Sunda

1060
Situs Tapak kaki Galuh
Situs Tapak Kaki, dari Kawali Ciamis

GUNUNG KUMBANG
Setelah sebulan lamanya Sanghyang Nanggo berkata, “Walangsungsang sekarang engkau baik bergurulah lagi kepada Sanghyang Naga di gunung Kumbang, mudah-mudahan ada sihnya guru.”

Walangsungsang mematuhi perintahnya guru, segera pamit terus berjalan menuju gunung kumbang, datang sudah di hadapan Sanghyang Naga.

Berkata Sanghyang Naga, “Hai orang muda, siapa engkau, asal putra mana dan apa yang engkau kehendaki?”

Sang Walangsungsang menjawab,” Hamba ingin, berguru agama Islam, Walangsungsang namanya putra Pejajaran.”

Sanghyang Naga berkata, “Hai Walangsungsang, agama Islam belum ada, kelak pada akhirnya engkau yang punya, mungkin sebentar lagi, hanya si bapak bisa memberi ilmu kesaktian, aji dipa, mengetahui omongannya segala binatang, keperkawinan, menghilang dan aji titimurni (membesarkan tubuh hingga segunung anakan).”

Walangsungsang sudah menerima semua apa sih pemberian guru.

Sanghyang Naga berkata, “Dan ini pusaka tiga warna kepunyaan Juwata sekarang dapat wangsit terimalah dari sih pemberian Dewa, ialah peci waring, kalau dipakai tidak terlihat semua penglihatan, badong batok berwatak dianuti oleh sileman siluman, jin, setan pada suka sih, umbul-umbul waring, berwatak rahayu dari senjata musuh dan melemahkan musuh.”

Diterima sudah, Walangsungsang mengucap terima kasih, lalu jimat yang warna tiga itu simpan di dalam cincin Ampal.

SHARE

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY