Mengolah Patirasa

530

Yang dimaksud dengan patirasa adalah bagaimana seseorang mengendalikan perasaan sakit yang dialaminya. Dan membahas masalah ini sudah tentu tak lepas dari kemampuan memusatkan konsentrasi.

Kemudian memusatkan konsentrasi yang tertuju pada pengendalian rasa sakit sangat menentukan kepiawaian seseorang memperagakan daya linuwihnya.sebab bagaimanapun bentuk demontrasi tersebut, tak lepas dari kemampuan mengendalikan perasaan sakit.

Sebagai contoh demontrasi tenaga dalam seperti disabet dengan cambuk, berjalan diatas kobaran api, dihantam dengan benda keras, selain latihan yang bersifat teknis dan fisik seseorang kanuragawan harus menguwasai metode “memindahkan” rasa sakit yang dialaminya.

Karena penguasaan tersebut, seseorang lantas terkesan memiliki kekebalan, padahal jika boleh saya berkata jujur, bahwa setiap manusi itu memiliki rasa sakit sebagai mana rasa sakit yang dialami orang lain.

Bedanya cuma pada sejauh mana manusia mampu mengendalikan rasa sakit (mengendalikan perasaan), atau sejauh mana hati seseorang yang menerima rasa sakit sebagaimana rasa sakit tersebut.

Hal ini tak beda dengan sepasang muda-mudi yang sedang kasmaran. Cubitan sayang yang mengelupaskan kulitnya pun tak membuatnya kesakitan, justru bibirnya tersenyum. Hal ini juga tak beda dengan para kanuragawan yang memperagakan demontrasi tenaga dalamnya.seperti disabet dengan cambuk atau jenis demontrasi yang lain. Bukan berarti ia tidak merasakan sakit sama sekali, tapi karena mentalnya sudah siap, sehingga rasa sakit tersebut tak dihiraukannya.

Dengan demikian, ada suatu kekuatan yang tersembunyi pada diri manusia yang mampu mengkonsentrasikan pikirannya menuju pada satu titik, sehingga karena pemusatan tersebut mampu mematikan rasa sakit dan sebagainya, sehingga karena itu pula lalu berkembang disiplin ilmu seperti hipnnotisme, serta disiplin ilmu lain yang di indonesia lebih dikenal sebagai ilmu patirasa yang belakangan ini banyak memunculkan demontrasi tenaga dalam, atraksi debus dan sebagainya.

Kemampuan ini ada pada setiap tubuh manusia, cuma keberadaannya sangat ditentukan sejauh mana manusia melatih dan menumbuhkannya.

Berabat-abat yang silam,kisah tentang “patirasa” ini sudah banyak kita dengar. Kita tentu pernah mendengar betapa Rabi`ah Al Dawiyyah tidak merasa sakit walau kepalanya berdarah berbentur balokan kayu lantaran khusyu`nya berzikir pada Allah, atau kisah tentang Sayyidina ali yang tidak merasakan anak panah yang menancap dipunggungnya telah dicabut oleh seseorang sahabatnya, karena pencabutan tersebut dilakukan ketika Sayyidina Ali sedang khusyu`dalam shalat.

Kisah yang lain adalah kisah para wanita di zaman Nabi Yusuf AS. Karena terpesona pada ketampanan Nabi Yusuf AS. para wanita tersebut tak menyadari bahwa pisau yang digunakan untuk mengupas buah telah meleset dan menyayat-nyayat kulitnya.

Itulah sebagian dari keajaiban yang muncul ketika seseorang telah mencapai tingkat pemusatan konsentrasi tertentu. Dan hal-hal tersebut umumnya terjadi pada masa-masa yang kritis, atau seseorang yang secara sengaja mengkondisikan suasana batinnya menuju tingkat konsentrasi yang optimal.

Dengan demikian lalu mengilhami para ahli ilmu bathiniyah untuk melakukan riyadho(laku batin) yaitu bagaimana menggarap diri sehingga mampu menumg uhkan kemampuan daya linuwih tersebut baik dalam keadaan jaga(sadar) maupun keadaan kritis.

Caranyapun beragam. Namun intinya pada pemusatan konsentrasi, memperkuat daya kemauan dan keyakinan diri (sugesti).

Dan sejarah mencatat beberapa keberhasilan dari ilmu patirasa sebagaimana dilakukan oleh ahli pada tahun 1842 bernama W.S.Ward, yaitu mengamputasi kaki sebatas paha dengan cara menyalurkan daya patirasa (hipnotis) kepada pasiennya.

Tetapi tidak dapat disangkal juga, kekuatan dan mukzijat doa juga memegang peranan penting dalam pengolahan patirasa ini. Sehingga oleh ahli hikmah terdapat bacaan-bacaan tertentu yang dapat memberikan kekuatan supranatural untuk membangkitkan efek ini.

SHARE

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY