Bag. II : Babad Sunda

1082
Pintu Masuk Kraton Kasepuhan Cirebon
Pintu Masuk Kraton Kasepuhan Cirebon

GUNUNG MARAAPI

Diceritakan Pangeran Walangsungsang telah datang di kaki gunung Maraappi (di Rajadesa Ciamis Timur) sedang tafakur. Tak lama kemudian datanglah Sanghyang Danuwarsih, datang sudah di hadapannya. Sang Danuwarsih berkata, “Hai siapa engkau, putra nama dan apa yang dikehendaki?”

Walangsungsang berkata, “Walangsungsang namaku, putra dari Raja Pajajaran yang beribu Ratu Subanglarang, yang hendak berguru agama Islam.”

Berkata sang Danuwarsih, “Baik sekarang turutlah dengan si Rama di puncak gunung Maraapi, niscaya bertemu dengan jodoh engkau.”

Walangsungsang mematuhi. Segera turut bersama menuju kediaman Sang Danuwarsih. Datang sudah mereka berdua di puncak gunung Maraapi.

Sang Danuwarsih berkata, “Hai putriku, Nini Indanganyu, sekarang lekas bikin jamuan, jodoh engkau sudah datang.”

Nyi Mas Indangayu-pun menghidangkan jamuan. Ayahnya bersuka cita. Segera diitari/ditawarkan. “Hai Walangsungsang – Indangayu, sekarang aku kawinkan kamu berdua jadi satu, karena tidak lain trah (turunan) dari Galuh.”

Sang putra berdua menyetujui. Segera telah kawin tetap catat (syah) perkawinannya pada tahun 1442 M. Jeng Pangeran Walangsungsang pada waktu itu berusia 23 tahun. Sementara itu diceritakan Ratu Mas Rarasantang yang sedang dalam perjalanan berada digunung Tangkubanprahu kelelahan beristirahat di bawah pohon beringin dengan menggosok kakinya yang pada bengkak, pakaiannyapun tercabik-cabik. Ia menangis sambil menyebut-nyebut nama abangnya. Tak lama kemudian datanglah Nyi Indang Sukati dihadapannya.

Nyi Indang berkata, “Hai bayi, engkau siapa dan apa yang engkau cari sendirian berada disini tanpa kawan.”

Sang Dewi Rarasantang menjawab, “Eyang, hamba sesungguhnya putri Pejajaran dari ibu Subanglarang, Rarasantang nama hamba, yang dituju menyusul saudara tua Walangsungsang, mohon pertolongan Eyang, semoga lekas bertemu.”

Nyi Indang Sukati merasa kasihan, “Duhai bayi, terimalah baju Sang Dewa Mulya, berwatak cepat-cepat berjalan seperti angin dan tidak panas di dalam api dan tidak basah di dalam air, rahayu/dijauhkan dari bahaya.”

Segera sudah di pakai baju si Dewa Mulya, sang putri mengucap terima kasih dan mohon petunjuk kakaknya ada dimana.

Berkata Nyi Indang Sukati, “Engkau datanglah terlebih dahulu di gunung Liwung, temuilah Ajar Sakti, di situlah dapat petunjuk.”

Segera Sang Dewi menyembah pamit, terlaksana dengan sebentar Sang putri telah datang di gunung Liwung di hadapan Ki Ajar Sakti, menyungkemi kakinya sambil memohon petunjuk kakaknya ada dimana.

Ki Ajar waspada penglihatannya, mengetahui maksud sang putri.

Ia berkata, “Bayi, kakak engkau, Walangsungsang sudah punya istri, Indangayu namanya, putri sanghyang Danuwarsih yang berada di gunung Maraapi, baik engkau menyusul kesana dan aku memberi engkau nama Ratnaeling, kelak dipastikan mempunyai putra lelaki yang punjul sebuana.”

Sang putri mengucap terima kasih. segera pamit, terus berjalan menuju puncaknya gunung Maraapi, bahkan sebentar saja sudah sampai.

Syahdan Pangeran Walangsungsang yang sedang tafakur di hadapan Sang Danuwarsih. Berkata Sang Danuwarsih, “Hai putraku Walangsungsang terimalah cincin pusaka turunan dari Dipati Suryalaga sama turunan engkau.Ini wataknya cicin Ampal kalau diterawangkan tahu isinya jagat bumi tujuh langit tujuh bisa terlihat dan didalam cincin Ampal dapat memuat laut dan gunung, bisa untuk sebanyak simpanan, terkabul yang dikehendaki, namun Agama Islam si Rama tidak bisa, kelak seantara lagi engkau tahu, hanya ini terimalah aji-aji dan kememayan (melumpuhkan) pengabaran (menurut) dan Pengasihan (pekasih).”

Walangsungsang mengucap terimakasih sambil menerima semua pemberian Sang Ayahanda.

Sedangkan mereka berkumpul tak lama memudian datanglah Sang Dewi Rarasantang bertemu rangkul merangkul dengan kakaknya.

Berkata Walangsungsang sambil menangis, “Duhai bayi adikku, sungguh bahagia engkau masih bisa bertemu dengan si kakak, apa sebabnya engkau menyusul, tidaklah engkau lebih senang di dalam kraton, dan engkau dapat petunjuk jalan dari siapa?”

Sang Rarasantang berkata sambil menangis perihal perjalanannya dari awal hingga akhir.Sedangkan mereka berdua bercakap-cakap Sang Danuwarsih mendekati dan berkata, “Hai putraku, itu bayi perempuan siapa berangkulan bertangisan?”

Menjawab Sang Putra, “Sunguh sadari kandung hamba seayah seibu, Rarasantang namanya.”

Segera Nyi Indangayu merangkul adik iparnya.

SHARE

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY