Bag. I : Babad Sunda

2059
Gua Sunyaragi
Gua Sunyaragi, dibangun oleh Pangeran Arya Cerbon pada 1703

Kisah Babad Tanah Jawa telah banyak sering kita dengar, sekarang Paranormal Indonesia Akan menampilkan Babad Tanah Sunda, yang disarikan dan diterjemahkan langsung dari Huruf Arab Gundul dari sakriannya. Tulisan ini akan dibuat bersambung. Ceritanya sangat menarik sekali. Ikutilah….

1. Negara Pajajaran.

Pertama-tama diceritakan perihal perjalanan hidup Pangeran Walangsungsang, hingga datang kepada ceriatan Yang Sinuhun Susuhunan cirebon.

Adapun yang dibuka oleh cerita ini adalah menceritakan suatu praja di pajajaran Ratu Agung di Tanah Sunda yang bernama Sri Sang Ratu Dewata Wisesa, mashur disebut Sri Mahaprabu Siliwangi. Beristri tiga orang, ialah Ambetkasih. Aci Bedaya dan permaisuri Ratu Subanglarang. Sang Prabu berputra empat puluh orang.

Sang Prabu bersabda. “Hai anakku Walangsungsang, aku lihat engkau bermurah durja, semuanya prihatin tidak sama dengan sesama yang berkumpul duduk. Apa yang jadi kesedihan engkau , bekankah engkau calon Prabu Anom memangku negara? Atau putri yang engkau inginkan, beritahu saja mana yang engkau sukai, jangan engkau bersedih hati, tidak baik bagi pribawa semuanya kraton.”

Sang putra menjawab dengan kidmat sambil menundukkan kepala dan mengeluarkan air mata, “Duhai Gusti,murka dalem yang hamba mohon, karena tadi malam hamba mimpi bertemu wejangan agama Islam sarengat Jeng Nabi Muhammad yang jadi Utusan Yang Widi,namun menyesal sekali belum tuntas hamba sudah terjaga. Sekarang hamba rindu sekali kepada agama Islam itu.”

Sang prabu berkata sambil tersenyum. “Walangsungsang, engkau orang muda jangan terlanjur, engkau kena sihir,kena bius Muhammad yang mengaku anutan, yang jadi duatnya Widi,sungguh dusta seenak nafsunya, karena sesungguhnya anutan itu adalah Yuang Brahma Yuang Wisnu itu sesungguhnya agama Dewa yang Mulia.Yang Jagat Nata Pangerannya orang setri loka.Sejak dahulu hingga sekarang para leluhur tidak menghendaki dirubah.”

Walangsungsang menjawab sambil menyembah, “Duhai Gusti mohon ampun Dalem, pengerian, kebijaksanaan dan pemaafan Dalem yang hamba mohonkan,karena hamba lebih condong/suka sarengat Jeng Nabi Muhammad dan sesungguhnya Ilahi yang wajib disembah itu melainkan Allah yang tiada sekutu sesama yang baharu (makhluk).”

Sang Prabu murka,karena sang putra tidak patuh, bertentangan dengan agamanya. Sang putra dimarahi diusir keluar dari praja Pejajaran. Walangsungsang menjadi suka hati, segera pamit, menghindar dari hadapan Sang Prabu, keluar sudah dari Istana, terus berjalan masuk hutan keluar hutan naik gunung turun gunung menuju kearah timur Ratu Mas Rarasantang sedang rindu kepada kakaknya, ialah Walangsungsang, menangis siang malam selama empat hari akhirnya Rarasantang mimpi bertemu dengan seorang lelaki pula yang berupa satria lagi berbau harum memberi pelajaran agama Islam, menyuruh berguru sarengat Jeng Nabi Muhammad dan diramal kelak suami Ratu Islam dan akan mempunyai anak lelaki yang punjul. Rarasantang segera terbangun,ingat kepada impiannya lalu keluar dari keraton, menyusul kakaknya, Walangsungsang, terus berjalan.

Diceritakan di dalam kraton geger busekan/panik, karena sang putri menghilang melolos tanpa bekas,Jeng Ratu Subanglarang sangat olehnya menangis menyungkemi Sang Prabu karena kedua-dua putranya hilang. Sang prabu kaget sekali,segera memanggil menghadap seluruh para putra sentara, patih, bupati, para wadyabala dikumpulkan.

Sang Prabu berkata, “Hai Patih Argatala, Dipati Siput, sekarang carilah putraku, Dewi Rarasantang hilang dari kraton dan Walangsungsang disuruh pulang. Sungguh jangan tidak teriring keduanya.” Patih Argatala menjawab sandika. Ia segera keluar dari kraton mengumumkan kepada seluruh para wadyabala di pejajaran geger panik lalu menyebar ke berbagai penjuru. Patih Argatala mencari dengan berlaku betapa menuruti perjalanan pendeta. Dipati Siput mencarinya memasuki hutan menuruti perjalanan hewan. Para putra pada bertapa atau berlaku sebagai dukun, sebagai membangun kerajaan. Pada wadyabala bubar kemasing-masing tujuannya, mereka takut, tidak berani pulang sebelum mendapat karya.

SHARE

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY